20120320

Sirrul Asror //“Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar”atau“rahasia dalam rahasia-rahasia yang Kebenarannya sangat diperlukan”


4. MANUSIA KEMBALI KE KAMPUNG HALAMAN, KEPADA ASAL USUL / PERMULAAN MEREKA
Manusia dipandang dari dua sudut; wujud lahiriah dan wujud rohani. Dalam segi perwujudan lahiriah keadaan kebanyakan manusia hanya terdapat sedikit perbedaan saja diantara satu sama lain. Oleh karena itu peraturan kemanusiaan yang sama digunakan untuk sekalian manusia bagi urusan lahiriah mereka. Dalam sudut perwujudan rohani yang tersembunyi di balik wujud lahiriah, setiap manusia berbeda. Jadi, peraturan yang khusus mengenai diri masing-masing diperlukan.
Manusia dapat kembali kepada asalnya dengan mengikuti peraturan umum, dengan mengambil langkah-langkah tertentu. Dia mestilah mengambil peraturan agama yang jelas dan mematuhinya. Dengan demikian dia boleh maju kedepan. Dia dapat naik dari satu peringkat kepada peringkat yang lebih tinggi sehingga dia memasuki jalan pada peringkat kerohanian, masuk kedaerah makrifat. Peringkat ini sangat tinggi dan dipuji oleh Rasulullah s.a.w, “Ada suasana yang semua dan segala-galanya berkumpul di sana dan ia adalah makrifat yang murni”.
Untuk sampai keperingkat tersebut sangat perlu membuang kepura-puraan dan kepalsuan dalam melakukan kebaikan karena menepuk dada sendiri. Kemudian dia perlu menetapkan tiga tujuan. Tiga tujuan tersebut sebenarnya adalah tiga jenis syurga. Yang pertama dinamakan Ma’wa – syurga tempat kediaman yang aman. Ia adalah syurga duniawi. Kedua, Na’im – taman keridhaan Allah dan kurnia-Nya kepada makhluk-Nya. Ia adalah syurga didalam alam malaikat. Ketiga dinamakan Firdaus – syurga alam tinggi. Ia adalah syurga pada alam kesatuan akal asbab, rumah kediaman bagi roh-roh, tempat bagi nama-nama dan sifat-sifat. Semua ini adalah balasan yang baik, keelokan Allah bagi manusia berjasad akan diperoleh dari usahanya sepanjang tiga peringkat ilmu pengetahuan yang berkesinambungan; usaha mematuhi peraturan syariat; usaha menghapuskan kebanggaan pada dirinya, melawan penyebab yang menimbulkan suasana bangga itu sendiri, yaitu ego diri sendiri, untuk mencapai peringkat penyatuan dengan Pencipta; akhirnya usaha untuk mencapai makrifat, dimana dia mengenali Tuhannya. Peringkat pertama dinamakan syariat, kedua tarekat dan ketiga makrifat.
Nabi Muhammad s.a.w menyimpulkan keadaan-keadaan tersebut dengan sabda baginda s.a.w, “Ada suasana di mana semua dan segala-galanya dikumpulkan dan ia adalah makrifat”. Baginda s.a.w juga bersabda, “Dengannya seseorang mengetahui kebenaran (hakikat), yang berkumpul di dalamnya sebab-sebab dan semua kebaikan. Kemudian seseorang itu mesti bertindak atas kebenaran (hakikat) tersebut. Dia juga perlu mengenali kepalsuan dan bertindak padanya dengan meninggalkan segala yang demikian”. Baginda s.a.w mendoakan, “Ya Allah, tunjukkan kepada kami yang benar dan jadikan pilihan kami mengikuti yang benar itu. Dan juga tunjukkan kepada kami yang tidak benar dan permudahkan kami meninggalkannya”. Orang yang kenal dirinya dan menentang keinginannya yang salah dengan segala kekuatannya akan sampai kepada mengenali Tuhannya dan akan menjadi taat kepada kehendak-Nya.
Semua ini adalah peraturan umum mengenai diri zahir manusia. Kemudian ada pula aspek diri rohani atau diri batin manusia yang merupakan insan kamil, suci bersih dan murni. Maksud dan tujuan diri ini hanya satu yaitu penyatuan secara keseluruhan kepada Allah s.w.t. Satu cara saja untuk mencapai suasana yang demikian, yaitu pengetahuan tentang yang sebenarnya (hakikat). Di dalam daerah wujud penyatuan mutlak, pengetahuan ini dinamakan kesatuan atau keEsaan.
Tujuan pada jalan tersebut harus diperoleh di dalam kehidupan ini. Didalam suasana itu tiada beda diantara tidur dengan terjaga karena didalam tidur roh berkesempatan membebaskan dirinya untuk kembali kepada asalnya, alam arwah, dan dari sana kembali dengan membawa berita-berita dari alam ghaib. Fenomena ini dinamakan mimpi. Dalam keadaan mimpi ia berlaku secara sebagian-bahagian. Ia juga dapat berlaku secara menyeluruh seperti isra’ dan mi’raj Rasulullah s.a.w. Allah berfirman:
“Allah memegang jiwa-jiwa ketika matinya dan yang tidak mati, dalam tidurnya, lalu Dia tahan yang dihukumkan mati atasnya dan Dia lepaskan yang lain”. (Surah Zumaar, ayat 42).
Nabi s.a.w bersabda, “Tidur orang alim lebih baik daripada ibadat orang jahil”. Orang alim adalah orang yang telah memperoleh pengetahuan tentang hakikat, yang tidak berhuruf, tidak bersuara. Pengetahuan demikian diperoleh dengan terus menerus berzikir nama keEsaan Yang Maha Suci dengan lidah rahasia. Orang alim adalah orang yang zat dirinya ditukarkan kepada cahaya suci keEsaan. Allah berfirman melalui rasul-Nya:
“Insan adalah rahasia-Ku dan Aku rahasianya. Pengetahuan batin tentang hakikat roh adalah rahasia kepada rahasia-rahasia-Ku. Aku campakkan ke dalam hati hamba-hamba-Ku yang baik-baik dan tiada yang tahu Keadaannya melainkan Aku.”
“Aku adalah sebagaimana hamba-Ku mengenali Daku. Bila dia mencari-Ku dan ingat kepada-Ku, Aku besertanya. Jika dia mencari-Ku di dalam, Aku mendapatkannya dengan Zat-Ku. Jika dia ingat dan menyebut-Ku di dalam jemaah yang baik, Aku ingat dan menyebutnya di dalam jemaah yang lebih baik”.
Segala yang dikatakan disini jika berhasrat mencapainya perlulah melakukan tafakur – cara mendapatkan pengetahuan yang demikian jarang digunakan oleh kebanyakan orang. Nabi s.a.w bersabda, “Satu saat bertafakur lebih bernilai daripada satu tahun beribadat”. “Satu saat bertafakur lebih bernilai daripada tujuh puluh tahun beribadat”. “Satu saat bertafakur lebih bernilai daripada seribu tahun beribadat”.
Nilai sesuatu amalan itu tersembunyi didalam hakikat kepada yang sebenarnya. Perbuatan bertafakur disini nampaknya mempunyai nilai yang berbeda.
Barangsiapa merenungi sesuatu perkara dan mencari penyebabnya dia akan mendapati setiap bagian mempunyai bagian-bagian sendiri dan dia juga mendapati setiap satu itu menjadi penyebab kepada berbagai-bagai perkara lain. Renungan begini bernilai satu tahun ibadat.
Barangsiapa merenungi kepada pengabdiannya dan mencari penyebab dan alasan serta dia dapat mengetahui yang demikian, renungannya bernilai lebih dari tujuh puluh tahun ibadah.
Barangsiapa merenungkan zat Ilahi dalam bidang makrifat dengan segala kesungguhannya untuk mengenal Allah Yang Maha Tinggi, renungannya bernilai lebih dari seribu tahun ibadah karena ini adalah ilmu pengetahuan yang sebenarnya.
Pengetahuan yang sebenarnya adalah suasana keEsaan. Orang arif yang menyintai menyatu dengan yang dicintainya. Dari alam kebendaan terbang dengan sayap kerohanian meninggi hingga puncak pencapaian. Bagi ahli ibadat berjalan di dalam syurga, sementara orang arif terbang menuju penyatuan dengan Tuhannya.
Para pencinta mempunyai mata pada hati mereka ,mereka memandang sementara yang lain terpejam.
Sayap yang mereka miliki tanpa daging tanpa darah,mereka terbang ke arah malaikat,Tuhan jualah yang dicari!
Penerbangan ini terjadi didalam alam kerohanian orang arif. Para arifbillah mendapat penghormatan dipanggil insan sejati, menjadi kekasih Allah, sahabat-Nya yang akrab, pengantin-Nya. Bayazid al-Bustami berkata, “Para Pemegang makrifat adalah pengantin Allah Yang Maha Tinggi”.
Hanya pemilik-pemilik ‘pengantin yang pengasih’ mengenali mereka dengan dekat dan secara mesra.. Orang-orang arif yang menjadi sahabat akrab Allah, walaupun sangat cantik, tetapi ditutupi oleh keadaan luar yang sangat sederhana, seperti manusia biasa. Allah berfirman melalui rasul-Nya:
“Para sahabat-Ku tersembunyi di bawah kubah-Ku. Tiada yang mengenali mereka kecuali Aku”.
Kubah yang dibawahnya Allah sembunyikan sahabat-sahabat akrab-Nya adalah keadaan mereka yang tidak terkenal, rupa yang biasa saja, sederhana dalam segala hal. Bila melihat kepada pengantin yang ditutupi oleh tabir perkawinan, apakah yang dapat dilihat kecuali tabir itu?
Yahya bin Muadh al-Razi berkata, “Para kekasih Allah adalah air wangi Allah didalam dunia. Tetapi hanya orang-orang yang beriman yang benar dan jujur saja dapat menciumnya”. Mereka mencium keharuman baunya lalu mereka mengikuti bau itu. Keharuman itu mewujudkan kerinduan terhadap Allah dalam hati mereka. Masing-masing dengan cara tersendiri mempercepat langkahnya, menambahkan usaha dan ketaatannya. Darah kerinduannya, keinginannya dan kelajuan perjalanannya bergantung pada berapa ringan beban yang dibawanya, sejauh mana dia telah melepaskan diri dari kebendaan dan keduniaannya. Semakin banyak menanggalkan pakaian dunia yang kasar ini semakin dia merasakan kehangatan Penciptanya dan semakin mendekat pada permukaan akan muncul diri rohaninya. Kedekatan dengan hakikat yang sebenarnya bergantung dari sejauh mana seseorang itu melepaskan kebendaan dan keduniaan yang menipu daya.
Penanggalan rasa paling benar dan paling hebat pada dirinya membawa seseorang menyatu dengan satu-satunya kebenaran. Orang yang akrab dengan Allah adalah orang yang telah membawa dirinya kepada keadaan kekosongan. Hanya selepas itu barulah dia dapat melihat wujud yang sebenarnya (hakikat). Tidak ada lagi kehendak pada dirinya untuk dia membuat sembarang pilihan. Tiada lagi “aku” yang tinggal, kecuali wujud satu-satunya yaitu yang sebenarnya (hakikat). Walaupun berbagai kekeramatan muncul melalui dirinya sebagai pembuktian kedudukannya, dia tidak merasa bangga dengan semua itu. Dalam keadaannya dia tidak akan membukakan rahsia karena membuka rahasia Ilahi adalah kekufuran.
Di dalam buku yang berjudul “Mirsad” ada dituliskan, ‘Semua orang yang mempunyai kekeramatan zahir pada mereka,mereka tidak memperdulikan keadaan tersebut. Bagi mereka masa kekeramatan yang muncul melalui mereka dianggap sebagai masa perempuan keluar darah haid. Wali-wali yang menyatu dengan Allah perlu mengembara sekurang-kurangnya seribu peringkat, yang pertamanya ialah pintu kekeramatan. Hanya mereka yang dapat melewati pintu ini tanpa cacat akan meningkat kepada peringkat-peringkat lain yang lebih tinggi. Jika mereka malas mereka tidak akan sampai ke mana-mana.

0 comments: