20120320

Sirrul Asror //“Sirr al-asrar fi ma yahtaju Ilahi al-abrar”atau“rahasia dalam rahasia-rahasia yang Kebenarannya sangat diperlukan”


7. ILMU PENGETAHUAN DAN PERKEMBANGAN KEROHANIAN 
Ilmu pengetahuan zahir mengenai benda-benda yang nyata dibagi menjadi dua belas bagian dan ilmu pengetahuan batin juga dibagi menjadi dua belas bagian. Bagian-bagian tersebut dibagik dikalangan orang awam dan orang khusus, hamba-hamba Allah yang sejati, menurut kadarnya masing masing. 
Untuk tujuan ilmiah yang berkaitan dengan pembicaraan kita ini dibuat dalam empat bagian. Bagian pertama melibatkan peraturan agama, mengenai kewajiban dan larangan berhubung dengan perkara-perkara dan peraturan-peraturan di dalam dunia ini. Kedua menyentuh soal pengertian atau maksud dan tujuan dari peraturan-peraturan tersebut dan bagian ini dinamakan bidang kerohanian yaitu pengetahuan mengenai perkara-perkara yang tidak nyata. Ketiga mengenai hakikat kerohanian yang tersembunyi yang dinamakan kearifan. Keempat mengenai hakikat didalam hakikat yaitu mengenai kebenaran yang sebenar-benarnya. Manusia yang sempurna perlu mempelajari semua bidang atau bagian tersebut dan mencari jalan ke arahnya.
Nabi s.a.w bersabda, “Agama ialah pokok, kerohanian adalah dahannya, kearifan (makrifat) adalah daunnya, kebenaran (hakikat) adalah buahnya. Quran dengan ulasannya, keterangannya, terjemahannya dan ibarat-ibaratnya terkandung semuanya”. Di dalam buku al-Najma perkataan-perkataan tafsir, ulasan dan takwil serta terjemahan melalui ibarat diartikan sebagai: ulasan terhadap Quran adalah keterangan dan perincian bagi faedah kefahaman orang awam, sementara terjemahan melalui ibarat adalah keterangan tentang maksud yang tersirat yang dapat diselami melalui tafakur yang mendalam serta memperoleh ilham sebagaimana yang dialami oleh orang-orang beriman sejati. Terjemahan yang demikian adalah untuk hamba-hamba Allah yang khusus dan teguh, keuletan didalam suasana kerohanian mereka dan teguh dengan pengetahuan yang menghasilkan pertimbangan yang benar. Kaki mereka teguh berpijak diatas bumi sementara hati dan fikiran mereka menjulang kepada ilmu ketuhanan. Dengan rahmat Allah keadaan gigihnya usaha seperti itu tidak akan bercampur dengan keraguan yang ditempatkan ditengah-tengah hati mereka. Hati yang teguh dalam suasana ini selaras dengan bagian kalimah tauhid “La ilaha illallah”, pengakuan terakhir keEsaan.
“Dia jualah yang menurunkan Kitab kepada kamu. Sebagiannya adalah ayat-ayat yang menghukum, yaitu ibu-ibu bagi Kitab, dan (sebahagian) yang lain adalah ayat-ayat yang memerlukan takwil. Adapun orang-orang yang di hati mereka ada kesesatan mencari-cari apa yang ditakwilkan daripadanya kerana hendak membuat fitnah dan karena hendak membuat takwilnya sendiri padahal tidak mengetahui takwilnya melainkan Allah dan orang-orang yang teguh kuat didalam ilmu berkata, ‘Kami beriman kepadanya (karena) semua itu daripada Tuhan kami’, dan tidak mengerti melainkan orang-orang yang mempunyai fikiran”. (Surah Imraan, ayat 7)
Jika pintu kepada ayat ini terbuka akan terbuka juga semua pintu-pintu kepada alam rahasia batin.
Hamba Allah yang sejati berkewajiban melaksanakan perintah-perintah-Nya dan menjauhkan diri dari larangan-Nya. Dia juga perlu menentang ego dirinya dan membendung kecenderungan prilaku jasad yang tidak baik. Asas penentangan ego terhadap agama adalah dalam bentuk khayalan dan gambaran yang bercanggah dengan kenyataan. Pada peringkat kerohanian ego yang buruk itu menekan dan mempengaruhi seseorang supaya mengakui dan mengikuti sebab-sebab dan rangsangan yang hanya hampir mendekati dengan kebenaran (bukan kebenaran yang sejati), walaupun kenyataanya risalat nabi dan fatwa wali yang telah banyak diubah, juga mengikuti guru yang pendapatnya salah. Pada peringkat makrifat ego mencoba menekan dan mempengaruhi seseorang agar mengakui kewalian dirinya sendiri malah ego juga menyeret seseorang untuk mengakui ketuhanannya – dosa paling besar menganggapkan diri sendiri sebagai sekutu dari Allah. Allah berfirman:
“Tidakkah engkau perhatikan orang yang mengambil hawa nafsunya sebagai tuhan..” (Surah Furqaan, ayat 43).
Tetapi peringkat kebenaran sejati adalah berbeda. Ego dan iblis tidak dapat sampai ke sana. Walaupun malaikat juga tidak akan sampai kesana. Siapapun kecuali Allah jika sampai ke sana pasti terbakar. Jibril berkata kepada Nabi Muhamamd s.a.w pada sempadan peringkat ini, “Jika aku mencoba melangkah satu langkah lagi aku akan terbakar menjadi abu”.
Hamba Allah yang sejati bebas dari perlawanan egonya dan iblis karena dia dilindungi oleh perisai keikhlasan dan kesucian.
“Ia (iblis) berkata: Karena itu demi kemuliaan-Mu, aku akan sesatkan mereka semuanya, kecuali di antara mereka hamba-hamba-Mu yang dibersihkan”. (Surah Shad, ayat 82 & 83).
 Manusia tidak dapat mencapai hakikat kecuali dia suci murni dengan jalan meninggalkan sifat-sifat keduniaannya sehingga hakikat menyatu dalam dirinya. Ini adalah keikhlasan sejati. Hawa nafsunya hanya akan meninggalkannya bila dia menerima pengetahuan tentang Zat Allah. Ini tidak dapat dicapai dengan pelajaran; hanya Allah tanpa perantaraan dapat mengajarnya. Bila Allah Yang Maha Tinggi sendiri yang menjadi Guru, Dia karuniakan ilmu dari-Nya sebagaimana Dia lakukan kepada Khaidhir. Kemudian manusia dengan kesadaran yang diperolehnya sampai kepada peringkat makrifat dimana dia mengenal Tuhannya dan menyembah-Nya yang telah dia kenal.
Orang yang sampai pada tingkat ini memiliki penyaksian roh suci dan dapat melihat kekasih Allah, Nabi Muhamamd s.a.w. Dia dapat bercakap dengan baginda s.a.w mengenai segala perkara dari awal hingga akhir dan semua nabi-nabi yang lain memberikannya khabar gembira tentang janji penyatuan dengan yang dikasihi. Allah menggambarkan keadaan ini:
“Kerana Barangsiapa taat kepada Allah dan rasul-Nya, maka mereka beserta orang-orang yang diberi nikmat daripada nabi-nabi, siddiqin, syuhada dan salihin dan Alangkah baiknya mereka ini sebagai sahabat rapat”. (Surah Nisaa’ ,ayat 69).
Orang yang tidak memperoleh pengetahuan ini didalam dirinya tidak akan menjadi arif walaupun dia membaca seribu buah buku. Nikmat yang dapat diharapkan oleh orang yang mempelajari ilmu zahir ialah syurga; di sana semua yang dapat dilihat adalah kenyataan sifat-sifat Ilahi dalam bentuk cahaya. Jangan kira bagaimana sempurna pengetahuannya tentang perkara nyata yang dapat dilihat dan dipercaya, itu tidak akan membantu seseorang untuk masuk kepada suasana kesucian yang mulia, yaitu kedekatannya dengan Allah, karena seseorang itu perlu terbang ketempat tersebut dan untuk terbang perlu adanya dua sayap. Hamba Allah yang sejati adalah yang terbang kesana dengan menggunakan dua sayap, yaitu pengetahuan zahir dan pengetahuan batin, tidak pernah berhenti ditengah jalan, tidak tertarik dengan apa saja yang ditemui dalam perjalanannya. Allah berfirman melalui rasul-Nya:
“Hamba-Ku, jika kamu ingin masuk kepada kesucian bersamaan dengan-Ku jangan pedulikan dunia ini ataupun alam tinggi para malaikat, tidak juga yang lebih tinggi dimana kamu dapat menerima sifat-sifat-Ku yang suci”.
Dunia kebendaan ini menjadi godaan dan tipu daya syaitan kepada orang yang berilmu. Alam malaikat menjadi rangsangan kepada orang yang bermakrifat dan suasana sifat-sifat Ilahi menjadi godaan kepada orang yang memiliki kesadaran terhadap hakikat. Barangsiapa yang berpuas hati dengan salah satu dari yang demikian maka akan terhalang dari kurnia Allah yang akan membawanya berdekatan dengan Zat-Nya. Jika mereka tertarik dengan godaan dan rangsangan tersebut mereka akan berhenti, mereka tidakakan maju kedepan, mereka tidak akan terbang lebih tinggi. Walaupun tujuan mereka adalah berdekatan dengan Pencipta mereka tidak lagi akan sampai ke sana. Mereka telah terperdaya, mereka hanya memiliki satu sayap.
Orang yang mencapai kesadaran tentang hakikat yang sebenarnya, menerima rahmat dan kurnia dari Allah yang tidak pernah dapat dilihat dengan mata dan tidak pernah dapat didengar telinga serta tidak pernah dapat diketahui namanya oleh hati. Inilah syurga kedekatan dan keakraban dengan Allah. Di sana tidak ada mahligai permata juga tidak ada bidadari yang cantik sebagai pasangan. Semoga manusia mengetahui nilai dirinya dan tidak berkehendak, tidak menuntut apa yang tidak layak baginya. Sayidina Ali r.a berkata, “Semoga Allah merahmati orang yang mengetahui harga dirinya, yang tahu menjaga diri agar berada di dalam sempadannya, yang memelihara lidahnya, yang tidak menghabiskan masanya dan umurnya di dalam sia-sia”.
Orang yang berilmu mestilah menyadari bahawa bayi ruh yang lahir dalam hatinya adalah pengenalan mengenai kemanusiaan yang sebenar benarnya, yaitu insan yang sejati/insan kamil. Dia harus mendidik bayi hati, ajarkan keEsaan dengan terus menerus berkesinambungan menyadari tentang keEsaan – tinggalkan keduniaan dan menghitung hitung kebendaan, cari alam kerohanian, alam rahsia dimana tiada yang lain kecuali Zat Allah. Dalam kenyataannya disana bukan tempat, ia tidak ada permulaan dan tidak ada penghujung. Bayi hati terbang melintasi padang luas yang tiada berbertepi, menyaksikan perkara-perkara yang tidak pernah dilihat mata sebelumnya, tiada siapapun bercerita mengenainya, tiada siapa dapat menggambarkannya. Tempat yang menjadi rumah kediaman bagi mereka yang meninggalkan diri mereka dan menemui keEsaan dengan Tuhan mereka, mereka yang memandang dengan pandangan yang sama dengan Tuhan mereka, pandangan keEsaan. Bila mereka menyaksikan keindahan dan kemuliaan Tuhan mereka akan merasa tidak ada apa apanya lagi yang tinggal dengan mereka. Bila dia melihat matahari dia tidak dapat melihat yang lain, dia juga tidak dapat melihat dirinya sendiri. Bila keindahan dan kemurahan Allah menjadi nyata apa lagi yang tinggal dengan seseorang? Tidak ada apa-apa!
Nabi s.a.w bersabda, “Seseorang perlu dilahirkan dua kali untuk sampai kepada alam malaikat”. Ia adalah kelahiran maksudnya adalah dari perbuatan dan kelahiran rohani dari jasad. Kemungkinan yang demikian ada dengan manusia. Ini adalah keanehan rahasia manusia. Ia lahir dari penyatuan pengetahuan tentang agama dan kesadaran terhadap hakikat, sebagaimana bayi lahir hasil dari percampuran dua titik air.
“Sesungguhnya Kami telah jadikan manusia daripada setitik (mani) yang bergiliran, yang Kami berikan percobaan kepada mereka, yaitu Kami jadikan dia mendengar dan melihat”. (Surah Insaan, ayat 2).
Bila bermaksud menjadi nyata dalam kewujudan maka akan menjadi mudah jika ia melepas bagian yang dangkal dan masuk kedalam laut penciptaan dan membenamkan dirinya kedasar hukum-hukum peraturan Allah. Sekalian alam kebendaan ini hanyalah satu titik jika dibandingkan dengan alam kerohanian. Hanya bila semua ini difahami maka kuasa kerohanian dan cahaya keajaiban yang bersifat ketuhanan, hakikat yang sebenar-benarnya, memancar kedalam dunia tanpa perkataan dan tanpa suara.

0 comments: