20120330

Terjemah Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)

BERSAMA MEMURNIKAN AKIDAH DAN AKHLAK MUSLIM

 SYARAH AL-HIKAM Bagian Pertama,Kedua,Ketiga

Mohon Maaf Jika Terjemahan Dibawah Ini Ada yang Salah Maka Mohon Sekiranya Pembaca Dapat Meluruskannya Untuk Itu Saya Ucapkan Terimakasih Dan Semoga Bermanfaat

28: Pembimbing Jalan Hakiki 29: Permintaan dan kedudukan 30: Qadar yang lebih halus 31:  Peluang mendekati  Allah s.w.t 32: Sifat kehidupan duniawi 33: Sandarkan niat kepada Allah s.w.t 34 & 35: Permulaan dan kesudahan 36: Batiniah mempengaruhi lahiriah 37: Pandangan hati dan akal 38: Sebarkan kebaikan mengikut kemampuan 39: Nur-nur karunia Allah s.w.t 40: Hijab menutupi diri dan alam ghaib 41: Diri yang terhijab, Allah s.w.t tidak 42: Sifat yang menyalahi ubudiyah 43 & 44: Ridha atau tiada nafsu puncak maksiat atau taat 45: Makrifat hati terhadap Allah s.w.t 46: Allah maha esa, ada dan kekal 47: Al-Karim, tumpuan segala hajat dan harapan 48:  Hajat dari Allah, hanya Dia yang dapatmelaksanakannya  49: Baik sangka terhadap Allah s.w.t  50: Kesan dari buta mata hati  51: Keluar dari alam menuju Pencipta alam 52: Sucikan maksud dan tujuan  53 & 54:  Waspada memilih sahabat  55: Zahid dan raghib  56: Amal, ahwal dan makom  57: Peranan zikir  58: Tanda matinya hati  59 & 60: Dosa dan baik sangka  61: Amal yang bernilai disisi Allah s.w.t 62 - 64: Wirid dan warid  65 – 67: Nur, mata hati dan hati 68 & 69: Ketaatan adalah karunia Allahs.w.t  70 - 72: Tamak melahirkan kehinaan  73:  Nikmat dan bala adalah jalan mendekatiAllah s.w.t  74: Syukur mengikat nikmat  75: Karunia yang menjadi istidraj 76: Murid yang terpedaya 77: Jangan meremehkan wirid yang lambat mendatangkan warid  78: Karunia Allah s.w.t yang menetap pada hamba-Nya  79: Warid terjadi secara tiba-tiba  80: Tanda kejahilan ahli hakikat  81: Akhirat tempat pembalasan bagi hamba-hambayang mukmin  82: Tanda diterima amal  83: Kedudukan hamba disisi Allah s.w.t  84: Nikmat lahir dan batin  85: Sebaik-baik permintaan  86: Tipu daya terhadap orang yang tidak taat



28: PEMBIMBING JALAN HAKIKI
TIDAK BERCITA-CITA SEORANG SALIK UNTUK BERHENTI KETIKA TERJADI KASYAF (TERBUKA PERKARA GHAIB) MELAINKAN SUARA HAKIKI BERSERU KEPADANYA: “ APA YANG KAMU CARI MASIH JAUH DIDEPAN  (OLEH ITU JANGAN KAMU BERHENTI)!” DAN TIDAK TERBUKA BAGINYA ALAM MAYA MELAINKAN DIPERINGATKAN OLEH HAKIKAT ALAM ITU: “SESUNGGUHNYA  KAMI ADALAH UJIAN, KARENA ITU JANGANLAH KAMU KUFUR!"
Latihan penyucian hati membawa rohani si salik meningkat dari satu peringkat kepada peringkat yang lebih tinggi. Kekuatan rohaninya bertambah dan pada masa yang sama juga pengaruh serta kesadaran inderawinya berkurang. Dalam keadaan seperti ini rohaninya mampu menjadi penasihat kepada dirinya sendiri. Bila terlintas dalam hatinya untuk melakukan kesalahan akan tercetuslah perasaan membantah perbuatan tersebut, seolah-olah ada orang yang menasihatinya. Apabila sampai kepada satu peringkat kesucian hati akan terbuanglah dari hatinya lintasan-lintasan yang bersifat duniawi, syaitani dan nafsi.
Lintasan duniawi menjerat kepada kelalaian, nafsu syahwat dan kesenangan harta benda. Lintasan syaitani menjerat untuk melakukan syirik dan bid'ah yang bertentangan dengan Sunah Rasulullah s.a.w. Lintasan nafsi pula mendorong kearah maksiat dan kemunkaran. Bila hati sudah terlindungi dari lintasan-lintasan jahat maka hati akan didatangi oleh lintasan malaki (malaikat) dan Rahmani (Tuhan).
Lintasan malaki mengajak kepada berbuat taat kepada Allah s.w.t dan meninggalkan larangan-Nya. Lintasan Rahmani adalah tarikan langsung dari Tuhan. Dalam lintasan-lintasan duniawi, syaitani, nafsi dan malaki, manusia mempunyai pilihan untuk menerima ataupun menolak cetusan atau rangsangan yang diterimanya itu. Akal dan imannya dapat berpikir dan menimbang akan sebab dan akibat jika dia mengikuti sesuatu rangsangan itu. Tetapi, dalam lintasan Rahmani hamba tidak ada pilihan, tidak ada hukum sebab musabab yang dapat mencegahnya dan tidak ada hukum logik yang dapat menguraikannya. Misalnya, seorang yang tidak pernah turun kelaut, tiba-tiba pada suatu hari tanpa dapat ditahan-tahan dia pergi kelaut dan mandi, lalu mati lemas. Masalahnya, tidak dapat diterangkan mengapa dengan tiba-tiba dia mau mandi dilaut dan dia tidak dapat melawan keinginan yang timbul dalam hatinya itu. Kuasa yang menariknya ke laut dan mandi lalu mati disitu dinamakan lintasan Rahmani atau tarikan ketuhanan. Dalam perjalanan kerohanian mungkin seorang salik itu menerima lintasan Rahmani yang menyeretnya melakukan sesuatu yang kelihatan aneh, tidak masuk akal dan dia sendiri tidak dapat memberi penjelasan tentang tindak tanduknya walaupun dia masih dapat melihat perbuatan yang dilakukan oleh dirinya sendiri itu.
Semasa pengembaraannya kedalam alam kerohanian si salik mungkin memperoleh kasyaf yaitu terbuka keghaiban kepadanya. Dia dapat melihat apa yang tersembunyi. Dia mungkin dapat melihat  peristiwa yang akan terjadi, dan yang telah terjadi. Mungkin juga dia dikaruniakan kekeramatan seperti ‘mulut masin’, berjalan di atas air, menyembuhkan penyakit dan lain-lain. Dia juga mungkin dapat melihat dengan mata hatinya keadaan Alam Barzakh, syurga dan neraka. Penemuan perkara-perkara yang ganjil, ajaib dan indah-indah dapat mempesonakan si salik dan boleh menyebabkan dia menjadi keliru dengan merasakan dia sudah sampai ke puncak, lalu dia berhenti disitu. Lebih membahayakan lagi jika si salik tidak mendapat bimbingan guru atau guru yang membimbingnya tidak memahami tentang seluk-beluk alam kerohanian. Si guru tidak dapat menjelaskan pengalaman aneh yang dialami oleh murid lalu si murid tidak ada pilihan kecuali membuat tafsirannya sendiri. Oleh sebab pengalaman tersebut adalah berkenaan perkara ghaib maka murid tadi mudah menyangkakan segala yang ghaib itu adalah aspek ketuhanan.
Di sini timbullah berbagai anggapan tentang Tuhan, karena dia menyangkakan yang dia telah melihat zat Tuhan. Timbullah sangkaan Tuhan adalah nur dengan warna  tertentu. Ada pula yang beranggapan Tuhan itu rupanya tegak seperti huruf alif. Ada pula yang mengatakan Tuhan adalah cahaya yang sangat halus. Bermacam-macam lagi anggapan tentang Tuhan muncul akibat kejahilan mengenai alam ghaib. Prasangka yang meletakkan Zat Allah s.w.t didalam ruang dan berbentuk  adalah kekufuran. Bahaya penyelewengan akidah pada orang yang belajar ilmu hakikat kepada yang bukan mursyid sangat besar. Orang yang belajar ilmu hakikat cara demikian membahaskan zat Ilahiah dengan menggunakan akalnya sedangkan akal tidak ada pengetahuan tentang zat.
Murid atau salik yang mendapat bimbingan dari guru yang mursyid dan mendapat rahmat, taufik dan hidayat dari Allah s.w.t akan dapat melalui peristiwa tipu daya tersebut diatas dengan selamat. Salik yang masuk kedalam Tarikan ketuhanan akan berjalan terus walau apa pun yang ditemuinya ditengah jalan, sekalipun dia ditawarkan dengan syurga. Tarikan ketuhanan yang memimpin salik itu dinamakan Petunjuk Ilmu, Perintah Batin, Petunjuk Laduni atau Suara Hakiki atau Pembimbing Hakiki. Ia adalah tarikan langsung dari Allah s.w.t agar hamba yang Allah s.w.t mau temui itu selamat sampai kepada-Nya. Salik menafikan semua yang ditemuinya. Selagi dapat disaksikan ia adalah sifat bukan zat. Sepanjang perjalanannya salik melihat bekas gubahan Tuhan, pengungkapan hikmat kebijaksanaan-Nya dan tanda-tanda yang memberi pemahaman tentang Dia. Zat Ilahiah tetap tinggal tertutup rapat oleh nur dibalik nur dan tidak dapat ditembus oleh siapapun dan penglihatan yang bagaimanapun. Jika nur yang disaksikan, maka nur adalah salah satu daripada tanda-tanda-Nya dan juga salah satu daripada Nama-nama-Nya. Setelah melewati yang dinafikan salik sampai kepada puncak kedunguannya yaitu pengakuan tentang kelemahannya mengenai zat Ilahiah. Inilah puncak pencapaian dan orang yang sampai kepada hakikat ini dinamakan orang yang bermakrifat atau orang yang mengenal Allah s.w.t. Dia mencapai hakikat yang dimaksud:
 
Tidak ada sesuatu apa pun menyerupai-Nya.
 Tidak ada yang menyerupai-Nya dan menyamai-Nya, mana mungkin ada gambaran tentang-Nya yang boleh ditangkap oleh penglihatan? Kebodohan dan kedunguan adalah hijab yang asli dan tidak mungkin tersingkap ditentang zat Ilahiat kecuali pada hari akhirat apabila seseorang hamba diizinkan memandang dengan pandangan mata. Sebelum itu tidak mungkin melihat Allah s.w.t dengan terang-terang. Apa yang diistilahkan sebagai melihat Allah s.w.t ialah menyaksikan Allah s.w.t pada sesuatu yang didalamnya terdapat bekas penciptaan-Nya, tanda-tanda-Nya, hikmat-Nya dan tadbir-Nya. Ia merupakan penglihatan akal serta mata hati atau melihat Nur-Nya iaitu melihat Rahsia Allah s.w.t yang tersembunyi pada sekalian kejadian-Nya. Zat Ilahiat tetap tinggal tertutup oleh keghaiban yang mutlak (Ghaibul Ghuyub).
 Orang sufi selalu mengatakan mereka melihat Allah s.w.t. Apa yang mereka maksudkan ialah penglihatan ilmu dan penglihatan hati nurani, penglihatan yang mengandungi rasa kecintaan yang sangat mendalam terhadap Allah s.w.t, dan kerinduan yang membara di dalam hati mereka. Itulah penglihatan mereka yang gilakan Allah s.w.t. Jangan ditafsirkan ucapan mereka secara lafaz tetapi selami hati mereka untuk memahami keasyikan dan kemabukan yang mereka alami.

0 comments: