20120414

Terjemah Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)

BERSAMA MEMURNIKAN AKIDAH DAN AKHLAK MUSLIM

 SYARAH AL-HIKAM Bagian Pertama,Kedua,Ketiga

Mohon Maaf Jika Terjemahan Dibawah Ini Ada yang Salah Maka Mohon Sekiranya Pembaca Dapat Meluruskannya Untuk Itu Saya Ucapkan Terimakasih Dan Semoga Bermanfaat

28: Pembimbing Jalan Hakiki 29: Permintaan dan kedudukan 30: Qadar yang lebih halus 31:  Peluang mendekati  Allah s.w.t 32: Sifat kehidupan duniawi 33: Sandarkan niat kepada Allah s.w.t 34 & 35: Permulaan dan kesudahan 36: Batiniah mempengaruhi lahiriah 37: Pandangan hati dan akal 38: Sebarkan kebaikan mengikut kemampuan 39: Nur-nur karunia Allah s.w.t 40: Hijab menutupi diri dan alam ghaib 41: Diri yang terhijab, Allah s.w.t tidak 42: Sifat yang menyalahi ubudiyah 43 & 44: Ridha atau tiada nafsu puncak maksiat atau taat 45: Makrifat hati terhadap Allah s.w.t 46: Allah maha esa, ada dan kekal 47: Al-Karim, tumpuan segala hajat dan harapan 48:  Hajat dari Allah, hanya Dia yang dapatmelaksanakannya  49: Baik sangka terhadap Allah s.w.t  50: Kesan dari buta mata hati  51: Keluar dari alam menuju Pencipta alam 52: Sucikan maksud dan tujuan  53 & 54:  Waspada memilih sahabat  55: Zahid dan raghib  56: Amal, ahwal dan makom  57: Peranan zikir  58: Tanda matinya hati  59 & 60: Dosa dan baik sangka  61: Amal yang bernilai disisi Allah s.w.t 62 - 64: Wirid dan warid  65 – 67: Nur, mata hati dan hati 68 & 69: Ketaatan adalah karunia Allahs.w.t  70 - 72: Tamak melahirkan kehinaan  73:  Nikmat dan bala adalah jalan mendekatiAllah s.w.t  74: Syukur mengikat nikmat  75: Karunia yang menjadi istidraj 76: Murid yang terpedaya 77: Jangan meremehkan wirid yang lambat mendatangkan warid  78: Karunia Allah s.w.t yang menetap pada hamba-Nya  79: Warid terjadi secara tiba-tiba  80: Tanda kejahilan ahli hakikat  81: Akhirat tempat pembalasan bagi hamba-hambayang mukmin  82: Tanda diterima amal  83: Kedudukan hamba disisi Allah s.w.t  84: Nikmat lahir dan batin  85: Sebaik-baik permintaan  86: Tipu daya terhadap orang yang tidak taat


83: KEDUDUKAN HAMBA DI SISI ALLAH S.W.T
JIKA KAMU MAHU MENGETAHUI KEDUDUKAN KAMU DI SISI ALLAH S.W.T, LIHATLAH DI MANA KAMU DIDUDUKKAN.

Perkara biasa sekiranya seseorang itu diganggu oleh keinginan mau mengetahui kedudukannya. Keinginan yang baik tidak lahir dari perasaan mau menunjuk-nunjuk atau mau bermegah-megah dengan pencapaiannya. Sebenarnya dia memerlukan pendorong untuk mendapat keyakinan yang teguh. Keinginan yang bertujuan meneguhkan keyakinan tidak dianggap tercela. Nabi Ibrahim a.s pernah memohon kepada Allah s.w.t agar diperlihatkan kepadanya bagaimanakah mereka yang telah hancur menjadi tanah dibangkitkan kembali, untuk menambah dan memperteguhkan keyakinan beliau a.s. Wali-wali Allah dikaruniakan kekeramatan sebagai penyokong dan memperkuatkan keyakinan mereka. Orang yang masih di dalam perjalanan juga memerlukan penyokong untuk memperbaharui semangat juang dan memperkukuhkan keyakinannya. Salah satu caranya adalah melihat kepada kedudukannya di sisi Allah s.w.t. Allah s.w.t  telah menetapkan beberapa derajat dan memperlihatkan tanda-tanda bagi derajat masing-masing. Rasulullah s.a.w bersabda yang bermaksud:
“Jika Allah s.w.t kasih kepada seseorang hamba maka diuji-Nya dengan bala, jika dia sabar dipilih-Nya dan jika dia ridha diistimewakan-Nya”. ( Maksud Hadis )

 Lihatlah kepada diri kita. Jika kita diberikan bala itu tandanya kita berada di dalam golongan hamba-hamba yang dikasihi-Nya. Hamba yang dikasihi adalah hamba yang sabar dan ridha. Jika tidak ada sabar dan ridha itu tandanya kita keluar dari kedudukan hamba yang dikasihi, bala yang dikenakan kepada kita merupakan hukuman terhadap dosa yang kita lakukan. Hamba yang sabar ketika menerima bala adalah hamba yang dipilih oleh Allah s.w.t, karena hanya yang dipilih oleh-Nya saja yang diperteguhkan dengan kesabaran, ketika hamba yang dijauhkan dibiarkan hanyut di dalam keperihan bala. Jika hamba itu naik dari sabar menjadi ridha, itu menunjukkan dia diistimewakan karena hanya hamba yang istimewa saja yang dikaruniakan ridha, sebab ridha mencairkan kesakitan dan keperihan bala lalu menukarkannya menjadi nikmat.
Allah s.w.t berfirman:
 


Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu (yang sempurna imannya) ialah mereka yang apabila disebut nama Allah (dan sifat-sifat-Nya) gementarlah hati mereka; ( Ayat 2 : Surah al-Anfaal ) 
 


Sesungguhnya yang sebenar-benar beriman kepada ayat-ayat keterangan Kami hanyalah orang-orang yang apabila diberi peringatan dan pengajaran dengan ayat-ayat itu, mereka segera merebahkan diri sambil sujud (menandakan taat patuh), dan menggerakkan lidah dengan bertasbih serta memuji Tuhan mereka, dan mereka pula tidak bersikap sombong takabur. Mereka merenggangkan diri dari tempat tidur, (sedikit tidur, karena mengerjakan sembahyang tahajud dan amal-amal salih); mereka senantiasa berdoa kepada Tuhan dengan perasaan takut (akan kemurkaan-Nya) serta dengan perasaan ingin memperoleh lagi (keridhaan-Nya); dan mereka selalu mendermakan sebahagian dari apa yang Kami beri kepada mereka. ( Ayat 15 – 16 : Surah as-Sajdah )
Allah s.w.t menerangkan dengan jelas tentang keadaan hamba-hamba-Nya yang berada dalam makom Mukmin. Lihatlah kepada diri kita dan jawablah sendiri adakah tanda-tanda Mukmin itu ada pada kita atau tidak ada. Jika tidak ada, perbanyakkan sembahyang malam dan bersedekah.
 Rasulullah s.a.w bersabda:


Barangsiapa ingin mengetahui kedudukannya di sisi Allah s.w.t hendaklah ia melihat (dalam hatinya) bagaimana keadaan Allah s.w.t pada sisinya, karena Allah s.w.t mendudukkan hamba-Nya menurut ukuran si hamba itu mendudukkan Allah s.w.t pada dirinya. ( Maksud Hadis)

Allah s.w.t berfirman dalam Hadis Qudsi:
 


Aku adalah sebagaimana sangkaan hamba-Ku, maka hendaklah dia menyangka dengan apa yang dia kehendaki.
Perkara pokok dalam memahami kedudukan kita di sisi Allah s.w.t adalah dengan melihat bagaimana keadaan hati kita terhadap Allah s.w.t. Jika hati kita lalai dari mengingat  Allah s.w.t  maka kedudukan kita adalah hamba yang lalai. Jika hati kita kuat bergantung kepada amal maka kedudukan kita adalah ragu-ragu dengan jaminan Allah s.w.t. Jika hati kita kuat bertajrid itu tandanya kita didudukkan hampir dengan-Nya. Jika kita sabar menghadapi ujian bala itu tandanya kita didudukkan dalam golongan pilihan. Jika kita ridha dengan apapun takdir yang Allah s.w.t berikan itu tandanya kita didudukkan dalam kumpulan yang diistimewakan. Jika kita merasakan diri kita kosong dari segala sesuatu, yang ada hanya Allah s.w.t, itu tandanya kita berada di dalam makom makrifat. Jika kita merasa senang dengan syariat yang dibawa oleh Nabi Muhammad s.a.w itu tandanya kita orang Islam. Jika gementar hati kita bila mendengar peringatan dari Allah s.w.t dengan mendengar ayat-ayat-Nya yang dibacakan itu tandanya kita seorang Mukmin. Jika sifat benar sehati dengan kita dalam segala keadaan itu tandanya kita seorang muhsinin. Jika kita menjalankan perintah Allah s.w.t dengan tepat, bersungguh-sungguh meninggalkan larangan-Nya itu tandanya kita seorang muttaqin. Jika kita merasa akan kehadiran Allah s.w.t  pada setiap waktu itu tandanya kita seorang muqarrabin. Jika kita merasakan wujud diri kita lebur di dalam Wujud Mutlak itu tandanya kita seorang ariffin. Jika kita gemar menangis dalam mengingati Allah s.w.t di samping melihat bala dan nikmat, senang dan susah, sehat dan sakit, penolakan dan penerimaan dan segala perkara yang bertentangan tidak lagi berbeda pada penglihatan mata hati kita itu tandanya kita dikuasai oleh Cinta Allah s.w.t. Jika apapun yang kita hadapi memperlihatkan Wujud Allah s.w.t  itu tandanya kita baqa atau kekal bersama-sama Allah s.w.t. Lihatlah di mana kita didudukkan, di situlah kedudukan kita di sisi Allah s.w.t.

0 comments: