20120410

Terjemah Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)

BERSAMA MEMURNIKAN AKIDAH DAN AKHLAK MUSLIM

 SYARAH AL-HIKAM Bagian Pertama,Kedua,Ketiga

Mohon Maaf Jika Terjemahan Dibawah Ini Ada yang Salah Maka Mohon Sekiranya Pembaca Dapat Meluruskannya Untuk Itu Saya Ucapkan Terimakasih Dan Semoga Bermanfaat

28: Pembimbing Jalan Hakiki 29: Permintaan dan kedudukan 30: Qadar yang lebih halus 31:  Peluang mendekati  Allah s.w.t 32: Sifat kehidupan duniawi 33: Sandarkan niat kepada Allah s.w.t 34 & 35: Permulaan dan kesudahan 36: Batiniah mempengaruhi lahiriah 37: Pandangan hati dan akal 38: Sebarkan kebaikan mengikut kemampuan 39: Nur-nur karunia Allah s.w.t 40: Hijab menutupi diri dan alam ghaib 41: Diri yang terhijab, Allah s.w.t tidak 42: Sifat yang menyalahi ubudiyah 43 & 44: Ridha atau tiada nafsu puncak maksiat atau taat 45: Makrifat hati terhadap Allah s.w.t 46: Allah maha esa, ada dan kekal 47: Al-Karim, tumpuan segala hajat dan harapan 48:  Hajat dari Allah, hanya Dia yang dapatmelaksanakannya  49: Baik sangka terhadap Allah s.w.t  50: Kesan dari buta mata hati  51: Keluar dari alam menuju Pencipta alam 52: Sucikan maksud dan tujuan  53 & 54:  Waspada memilih sahabat  55: Zahid dan raghib  56: Amal, ahwal dan makom  57: Peranan zikir  58: Tanda matinya hati  59 & 60: Dosa dan baik sangka  61: Amal yang bernilai disisi Allah s.w.t 62 - 64: Wirid dan warid  65 – 67: Nur, mata hati dan hati 68 & 69: Ketaatan adalah karunia Allahs.w.t  70 - 72: Tamak melahirkan kehinaan  73:  Nikmat dan bala adalah jalan mendekatiAllah s.w.t  74: Syukur mengikat nikmat  75: Karunia yang menjadi istidraj 76: Murid yang terpedaya 77: Jangan meremehkan wirid yang lambat mendatangkan warid  78: Karunia Allah s.w.t yang menetap pada hamba-Nya  79: Warid terjadi secara tiba-tiba  80: Tanda kejahilan ahli hakikat  81: Akhirat tempat pembalasan bagi hamba-hambayang mukmin  82: Tanda diterima amal  83: Kedudukan hamba disisi Allah s.w.t  84: Nikmat lahir dan batin  85: Sebaik-baik permintaan  86: Tipu daya terhadap orang yang tidak taat



61: AMAL YANG BERNILAI DISISI ALLAH S.W.T
TIDAK ADA AMAL YANG DIHARAPKAN DITERIMA ALLAH S.W.T SELAIN AMAL YANG KAMU TIDAK MELIHAT KEPADANYA DAN MEMANDANGNYA KECIL ATAU REMEH.

Hikmat ini mengajak kita merenung kepada amal yang kita anggap kecil, remeh dan tidak penting. Amal yang demikian kita lakukan seketika kemudian terus melupakannya. Misalnya, ketika kita sedang memandu, seekor anak ayam melintasi jalan di hadapan, kita melambatkan kendaraan sehingga anak ayam itu selamat menyeberang. Misal yang lain, seekor lalat terjatuh ke dalam minuman kita, lalu kita keluarkannya dan membiarkan ia terbang pergi. Peristiwa seperti itu dialami dalam beberapa saat saja, bersahaja, tidak menyentuh jiwa dan kemudian dilupakan buat selama-lamanya. Amal yang seperti itulah yang perlu direnungkan karena begitulah bentuk amal yang diterima oleh Allah s.w.t. Amal yang demikian keluar dari kemanusiaan yang asli dan murni. Keaslian dan kemurnian itulah yang hendak dihidupkan dalam setiap amalan, walau bagaimana besar sekalipun amalan itu. Apalah bedanya menyelamatkan seorang manusia dengan seekor lalat yang sama-sama lemas di dalam air. Allah s.w.t yang mengizinkan dan menggerakkan kamu untuk menyelamatkan lalat yang lemas itu. Allah s.w.t  juga yang mengizinkan dan menggerakkan kamu menyelamatkan manusia yang lemas. Siapakah kamu, di manakah  kamu, apakah kekuasaan kamu, apakah tindakan kamu dalam peristiwa-peristiwa tersebut? Adakah berbeda kamu yang menyelamatkan lalat itu dengan kamu yang menyelamatkan manusia itu? Sekiranya seseorang itu tidak ada keegoan atau ketakjuban terhadap dirinya sendiri dan hatinya tawadhu kepada Allah s.w.t, maka dia akan melihat Allah s.w.t  yang menyelamatkan lalat dan Dia juga yang menyelamatkan manusia itu. Ambillah iktibar dari amal yang kecil-kecil dan dipandang remeh dalam membentuk amal yang besar-besar dan dipandang penting, supaya kamu tidak melihat kepada amal ketika beramal.

Nilai sesuatu amal terletak pada ikhlas yang mengiringi amal tersebut dan ikhlas melepaskannya. Biasa terjadi seseorang itu ikhlas ketika berbuat kebaikan tetapi keikhlasan itu terusik kembali. Kebanyakan manusia enggan melupakan perbuatan baik yang telah mereka lakukan. Mereka suka mengingati dan menyebut kebaikan tersebut. Perbuatan demikian dapat membawa seseorang jatuh ke dalam sama’ah, yaitu menceritakan kebaikan supaya dirinya diakui dan disanjung sebagai seorang yang baik. Sama’ah menjadi minyak yang memudahkan ria menyala. Apabila ria sudah menyala segala kebaikan yang telah dibuatnya akan terbakar. Apa yang tinggal dalam simpanan akhiratnya hanyalah debu-debu yang tidak berharga. Orang tersebut akan menjadi orang yang memikul peti besi yang besar berisi debu untuk dibukakan di hadapan Tuhan. Mereka gembira di dunia tetapi kehampaan di akhirat.

Orang yang berada dalam suasana asbab perlu menghidupkan ikhlas dan memeliharanya agar tidak dirusakkan oleh ujub, ria dan sama'ah. Ikhlas dihidupkan dengan meniadakan kepentingan diri apabila berhubungan dengan orang lain. Ikhlas dipelihara dengan cara tidak mengikat kebaikan yang dibuat itu sama dengan yang ada di mulut ataupun di ingatan. Serahkan segala kebaikan yang dibuat kepada Allah s.w.t, tidak perlu kita menyimpan di mulut kita. Ketahuilah, memelihara ikhlas lebih sukar daripada menghidupkan ikhlas. Seseorang hanya perlu berperang sekejap saja dengan nafsunya sebelum berjaya melakukan sesuatu perbuatan dengan ikhlas, tetapi dia perlu berperang dengan nafsunya sepanjang hayatnya untuk memelihara ikhlas yang sudah dilakukannya dahulu.
Walau melalui arah mana pun diperhatikan, persoalannya tetap kembali kepada hati. Hati menjadi medan perebutan kekuasaan antara nafsu dengan ikhlas. Modal nafsu adalah kepentingan diri. Nafsu mengingatkan sesuatu yang dia ada kepentingan atau haknya yang telah diberikan kepada orang lain. Oleh karena nafsu tidak mati maka ingatannya kepada yang kehilangan itu juga tidak mati. Jihad terhadap nafsu ini berkepanjangan. Ikhlas adalah umpama bayi suci yang perlu dipelihara dan dilindungi daripada didikunyah oleh harimau nafsu.

Cara menundukkan harimau nafsu adalah jangan memberinya makan. Makanannya adalah cerita mengenai haknya yang telah terlepas ke tangan orang lain. Racun bagi harimau nafsu adalah cerita mengenai kebaikan Tuhan yang telah membagikan nikmat yang tidak terhingga kepada makhluk-Nya. Penetapan hak Allah atau Allah jualah Pemilik sebenarnya, akan melindungi bayi suci daripada musuh-musuh yang mau mencederakannya.

0 comments: