20120331

Terjemah Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)

BERSAMA MEMURNIKAN AKIDAH DAN AKHLAK MUSLIM

 SYARAH AL-HIKAM Bagian Pertama,Kedua,Ketiga

Mohon Maaf Jika Terjemahan Dibawah Ini Ada yang Salah Maka Mohon Sekiranya Pembaca Dapat Meluruskannya Untuk Itu Saya Ucapkan Terimakasih Dan Semoga Bermanfaat

28: Pembimbing Jalan Hakiki 29: Permintaan dan kedudukan 30: Qadar yang lebih halus 31:  Peluang mendekati  Allah s.w.t 32: Sifat kehidupan duniawi 33: Sandarkan niat kepada Allah s.w.t 34 & 35: Permulaan dan kesudahan 36: Batiniah mempengaruhi lahiriah 37: Pandangan hati dan akal 38: Sebarkan kebaikan mengikut kemampuan 39: Nur-nur karunia Allah s.w.t 40: Hijab menutupi diri dan alam ghaib 41: Diri yang terhijab, Allah s.w.t tidak 42: Sifat yang menyalahi ubudiyah 43 & 44: Ridha atau tiada nafsu puncak maksiat atau taat 45: Makrifat hati terhadap Allah s.w.t 46: Allah maha esa, ada dan kekal 47: Al-Karim, tumpuan segala hajat dan harapan 48:  Hajat dari Allah, hanya Dia yang dapatmelaksanakannya  49: Baik sangka terhadap Allah s.w.t  50: Kesan dari buta mata hati  51: Keluar dari alam menuju Pencipta alam 52: Sucikan maksud dan tujuan  53 & 54:  Waspada memilih sahabat  55: Zahid dan raghib  56: Amal, ahwal dan makom  57: Peranan zikir  58: Tanda matinya hati  59 & 60: Dosa dan baik sangka  61: Amal yang bernilai disisi Allah s.w.t 62 - 64: Wirid dan warid  65 – 67: Nur, mata hati dan hati 68 & 69: Ketaatan adalah karunia Allahs.w.t  70 - 72: Tamak melahirkan kehinaan  73:  Nikmat dan bala adalah jalan mendekatiAllah s.w.t  74: Syukur mengikat nikmat  75: Karunia yang menjadi istidraj 76: Murid yang terpedaya 77: Jangan meremehkan wirid yang lambat mendatangkan warid  78: Karunia Allah s.w.t yang menetap pada hamba-Nya  79: Warid terjadi secara tiba-tiba  80: Tanda kejahilan ahli hakikat  81: Akhirat tempat pembalasan bagi hamba-hambayang mukmin  82: Tanda diterima amal  83: Kedudukan hamba disisi Allah s.w.t  84: Nikmat lahir dan batin  85: Sebaik-baik permintaan  86: Tipu daya terhadap orang yang tidak taat


34 & 35: PERMULAAN DAN KESUDAHAN

TANDA TANDA AKAN BERHASILNYA PADA AKHIR PERJUANGAN ADALAH KUATNYA BERSERAH DIRI KEPADA ALLAH S.W.T PADA AWAL PERJUANGAN.
BARANGSIAPA CEMERLANG PERMULAANNYA, AKAN CEMERLANGLAH KESUDAHANNYA.
Hikmat 34 merumuskan intisari kesemua Kalam Hikmat yang diuraikan terlebih dahulu. Berserah diri kepada Allah s.w.t, bertawakal kepada-Nya dan mengembalikan segala urusan kepada-Nya adalah jalan untuk mendekati Allah s.w.t. Kesemua ini dapat diibaratkan sebagai kendaraan, sementara ilmu dan amal diibaratkan sebagai roda. Barangsiapa yang hanya membina roda tetapi tidak membina kendaraan maka dia akan memikul roda bukan menaiki kendaraan. Dia akan keletihan dan berhenti di tengah jalan sambil asyik bermain-main dengan roda seperti kanak-kanak.
Persoalan berseerah diri sering menimbulkan kekeliruan kepada orang yang berlarutan membincangkan mengenainya. Suasana hati dan kemampuan akal mengeluarkan berbagai uraian tentang berserah diri kepada Allah s.w.t. Ada orang beranggapan berserah diri adalah berpeluk tubuh, tidak melakukan apa-apa. Ada pula yang berpendapat orang yang berserah diri itu hidup dalam ibadat semata-mata, tidak memperdulikan kehidupan harian. Banyak lagi anggapan dan pendapat yang dikemukakan dalam menjelaskan mengenai berserah diri. Sifat orang yang berserah diri adalah merujuk sesuatu perkara yang diperselisihkan kepada Allah s.w.t. Mereka tidak taasub memegang sesuatu faham yang diperoleh melalui fikirannya atau pendapat orang lain. Mereka bersedia melepaskan faham dan pendapat peribadi sekiranya ia berseberangan dengan peraturan dan hukum Tuhan. Sewaktu hidup didalam dunia ini mereka mengembalikan lagi segala urusan kepada Allah s.w.t  karena mereka yakin bahwa diri mereka dan urusan mereka akan kembali juga kepada Allah s.w.t diakhirat kelak. Perjumpaan dengan Allah s.w.t  diakhirat menguasai tindakan mereka sewaktu hidup didunia ini.

Dan (katakanlah wahai Muhammad kepada pengikut-pengikutmu): “Apapun perkara agama yang kamu perselisihkan  padanya maka hukum pemutusnya terserah kepada Allah; Hakim yang demikian kekuasaan-Nya ialah Allah Tuhanku; kepada-Nya jualah aku berserah diri dan kepada-Nya jualah aku rujuk kembali (dalam segala keadaan)”. ( Ayat 10 : Surah asy-Syura )
Orang yang berserah diri kepada Allah s.w.t, mengembalikan urusan mereka kepada-Nya, meyakini bahwa golongan manusia yang benar-benar mengerti kehendak Allah s.w.t adalah golongan nabi-nabi. Oleh karena itu pegangan dan tindakan para anbia mesti dijadikan sandaran dalam membentuk pegangan peribadi dan juga dalam melakukan tindakan.

Dan ia (Yaakub) berkata lagi: “Wahai anak-anakku! Janganlah kamu masuk (ke bandar Mesir) dari sebuah pintu saja, tetapi masuklah dari beberapa buah pintu yang berlain-lain. Dan aku (dengan nasihatku ini), tidak dapat menyelamatkan  kamu dari sesuatu takdir yang telah ditetapkan oleh Allah. Kuasa menetapkan sesuatu (sebab dan musabab) itu hanya tertentu bagi Allah. Kepada-Nya jualah aku berserah diri, dan kepada-Nya jualah hendaknya berserah diri orang-orang yang mau berserah diri”. ( Ayat 67 : Surah Yusuf )
Ayat di atas menceritakan sifat berserah diri yang ada pada Nabi Yaakub a.s. Beliau a.s menasihatkan anak-anaknya yang sebelas orang itu memasuki kota Mesir melalui pintu-pintu yang berlainan. Ia menunjukkan Nabi Yaakub a.s mengakui tuntutan berikhtiar sebagaimana kedudukan mereka sebagai manusia. Walaupun begitu Nabi Yaakub a.s mengingatkan pula anak-anaknya bahwa mengikuti nasihat beliau a.s bukanlah jaminan yang anak-anaknya akan selamat dan mendapatkan apa yang mereka cari. Ikhtiar pada zahir mesti disertai dengan iman pada batin. Orang yang beriman meyakini bahwa Allah s.w.t  saja yang mempunyai kuasa penentuan. Oleh karena itu orang yang beriman dituntut agar berserah diri kepada Allah s.w.t saja, tidak berserah diri kepada yang lain, sekalipun yang lain itu adalah malaikat, wali-wali ataupun ayat-ayat Allah s.w.t. Allah s.w.t yang menguasai malaikat, wali-wali dan ayat-ayat-Nya. Penyerahan bulat kepada Allah s.w.t  bukan kepada sesuatu yang dinisbahkan kepada-Nya. Perkara ini dinyatakan oleh Nabi Hud a.s sebagaimana yang diceritakan oleh ayat berikut:

“Karena sesungguhnya aku telah berserah diri kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu! Tiadalah sesuatupun dari makhluk-makhluk yang bergerak dimuka bumi melainkan Allah jualah yang menguasainya. Sesungguhnya Tuhanku tetap diatas jalan yang lurus”. ( Ayat 56 : Surah Hud )
Tuhan berada diatas jalan yang lurus. Tuhan tidak mengantuk, tidak lalai, tidak keliru dan tidak melakukan kekhilapan. Apapun yang Tuhan lakukan adalah benar dan tepat. Tuhan berbuat sesuatu atas dasar ketuhanan dan dengan sifat ketuhanan, tidak ada pilih kasih. Dia adalah Tuhan Yang Maha Adil. Pekerjaan-Nya adalah adil. Dia adalah Tuhan Yang Maha Mengerti dan Maha Bijaksana. Pekerjaan-Nya adalah sempurna, teratur dan rapi. Dia adalah Tuhan Pemurah dan Penyayang. Pekerjaan-Nya tidak ada yang zalim. Tuhan yang memiliki sifat-sifat ketuhanan yang baik-baik itu mengadakan peraturan untuk diikuti. Mengikuti peraturan-Nya itulah penyerahan kepada-Nya. Nabi-nabi dan orang-orang yang beriman diperintahkan supaya menyampaikan kepada umat manusia apa yang datang daripada Allah s.w.t. Pekerjaan manusia adalah menyampaikan. Jika apa yang disampaikan itu tidak diterima, maka serahkannya kepada Allah s.w.t. Dia memiliki Arasy yang besar, yang memagari sekalian makhluk. Tidak ada makhluk yang dapat menembusi Arasy-Nya. Arasy-Nya adalah pagar Qadar. Apa yang dia ciptakan dan tentukan untuk makhluk-Nya dipagari oleh Arasy.

Kemudian jika mereka berpaling ingkar, maka katakanlah (wahai Muhammad): “cukuplah bagiku Allah (yang menolong dan memeliharaku), tiada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia; kepada-Nya aku berserah diri, dan Dia jualah yang mempunyai Arasy yang besar”. ( Ayat 129 : Surah at-Taubah )
Tauhid  adalah kesudahan pencapaian. Pada peringkat ini, syirik tidak ada lagi walaupun sebesar zarah. Dalam proses mencapai tauhid perlu ada pengasingan dan perbedaan antara Tuhan dengan yang selain Tuhan. Tidak boleh diadakan sekutu bagi Tuhan. Tidak boleh meletakkan anasir alam, amal, doa dan sebagainya pada kedudukan yang dapat menyebabkan timbul anggapan yang selain Tuhan itu mampu menyamai kekuasaan Tuhan. Tidak boleh terjadi ketaatan dan penyayangan terhadap sesuatu melebihi ketaatan dan penyayangan terhadap Allah s.w.t.
Katakanlah: "jika bapa-bapa, anak-anak, saudara-saudara, isteri-isteri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan yang kamu khawatiri kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, adalah lebih kamu cintai dari Allah dan RasulNYA dan dari berjihad di jalan NYA, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan NYA". Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik. ( Ayat 24 : Surah at-Taubah )
Perlu difahamkan bahawa sekalipun hamba telah berserah diri kepada Allah s.w.t, tanpa Allah s.w.t menerimanya tidak mungkin tercapai tujuannya. Penerimaan Allah s.w.t yang benar-benar membawa hamba kepada-Nya. Tanda Allah s.w.t menerima hamba-Nya ialah terdapat kecemerlangannya dimasa permulaan. Berlaku perubahan-perubahan kepada diri si hamba itu. Sifat buruknya terbuang dan sifat terpuji menghiasinya. Dia menjadi gemar beribadat dan berbuat taat. Semakin jauh perjalanannya semakin cemerlang hatinya. Dia diterangi oleh Nur Ilahi dan dikaruniakan ilmu laduni, yaitu ilmu mengenal Allah s.w.t. Nur Makrifat menyinarinya, maka kenallah dia pada Tuhannya.

0 comments: