20120329


Terjemah Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)

BERSAMA MEMURNIKAN AKIDAH DAN AKHLAK MUSLIM

 SYARAH AL-HIKAM Bagian Pertama,Kedua,Ketiga


Mohon Maaf Jika Terjemahan Dibawah Ini Ada yang Salah Maka Mohon Sekiranya Pembaca Dapat Meluruskannya Untuk Itu Saya Ucapkan Terimakasih Dan Semoga Bermanfaat



11: TIADA KESEMPURNAAN TANPA IKHLAS
TANAMKAN WUJUD KAMU DALAM BUMI YANG TERSEMBUNYI KARENA  YANG TUMBUH DARI SESUATU YANG TIDAK DITANAM ITU TIDAK SEMPURNA HASILNYA.
Hikmat yang lalu mengarahkan pandangan kita kepada ikhlas. Ikhlas menjadi kekuatan yang menghalau syirik Jalan syirik adalah kepentingan diri sendiri. Oleh itu diri sendiri mesti diperhatikan untuk menghindari terjerumusnya kedalam syirik. Bila kepentingan diri sendiri dapat ditundukkan barulah muncul keikhlasan.
Dan juga pada diri kamu sendiri. Maka mengapa kamu tidak mau melihat serta memikirkan (dalil-dalil dan bukti itu)? ( Ayat 21 : Surah adz-Dzaariyaat )
Hikmat 11 mengajak kita menyelami persoalan yang lebih halus yaitu hakikat diri kita sendiri atau kewujudan kita. Kita dijadikan dari tanah, maka kembalikan ia (jasad) kepada tanah, yaitu ia (jasad) harus dilayani sebagai tanah supaya ia tidak menggunakan tipu dayanya. Apabila kita sudah dapat menyekat pengaruh jasad maka kita hadapi juga ruh kita. Ruh datangnya dari Allah s.w.t, karena ruh adalah urusan Allah s.w.t, maka kembalikan ia kepada Allah s.w.t. Apabila seseorang hamba itu sudah tidak terikat lagi dengan jasad dan ruh maka jadilah dia tempat yang sesuai untuk diisi dengan Allah s.w.t.
Pada awal perjalanan, seseorang pengembara kerohanian membawa bersama-samanya sifat-sifat basyariah serta kesadaran terhadap dirinya dan alam nyata. Dia dikawal oleh kehendak, pemikiran, cita-cita, angan-angan dan lain-lain. Anasir-anasir alam seperti galian, tumbuh-tumbuhan dan hewan turut mempengaruhinya. Latihan kerohanian menghancurkan sifat-sifat yang keji dan memutuskan rantai pengaruh anasir-anasir alam.
Jika diperhatikan Kalam-kalam Hikmat yang lalu dapat dilihat bahawa hijab nafsu dan akal yang membungkus hati sehingga kebenaran tidak kelihatan. Akal yang ditutupi oleh kegelapan nafsu, yaitu akal yang tidak menerima pancaran nur, tunduk kepada perintah nafsu. Nafsu tidak pernah kenyang dan akal senantiasa mempunyai jawaban dan alasan. Hujah akal menjadi benteng yang kokoh untuk bersembunyinya nafsu. Jangan memandang enteng kepada kekuatan nafsu dalam hal menguasai akal dan pancaindera. Al-Quran telah memberi peringatan mengenainya:
Nampakkah (wahai Muhammad) keburukan keadaan orang yang menjadikan hawa nafsunya: tuhan yang dipuja lagi ditaati? Maka dapatkah engkau menjadi pengawas yang menjaganya agar tidak sesat? Atau adakah engkau menyangka bahwa kebanyakan mereka mendengar atau memahami (apa yang engkau sampaikan kepada mereka)? Mereka hanyalah seperti binatang ternak, bahkan (bawaan) mereka lebih sesat lagi. ( Ayat 43 & 44 : Surah al-Furqaan )
Dan kalau Kami kehendaki niscaya Kami tinggikan pangkatnya dengan (sebab mengamalkan) ayat-ayat itu. Tetapi ia berlomba cenderung kepada dunia dan menurut hawa nafsunya; maka bandingannya adalah seperti anjing, jika engkau menghalaunya: ia menghulurkan  lidahnya terengah-engah, dan jika engkau membiarkannya: ia juga menghulurkan lidahnya terengah-engah. Demikianlah bandingan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami. Maka ceritakanlah kisah-kisah itu supaya mereka mau berfikir. ( Ayat 176 : Surah al-A’raaf )
Manusia yang menerima ayat-ayat Allah s.w.t yang seharusnya menjadi mulia telah bertukar menjadi hina karena mereka memperturutkan hawa nafsu. Ayat-ayat Allah s.w.t yang diketahuinya memancarkan cahaya pada hati dan akalnya tetapi kegelapan nafsu membungkus cahaya itu. Di dalam kegelapan nafsu, akal mengadakan hujah untuk mendustakan ayat-ayat Allah s.w.t yang dia sendiri mengetahuinya. Allah s.w.t mengadakan perbandingan yang hina bagi orang yang seperti ini. Mereka adalah umpama anjing yang tidak dapat berfikir dan tidak bermoral. Buruk sekali pandangan Allah s.w.t terhadap orang yang mempertuhankan nafsunya. Nafsu yang tidak mau kenyang adalah umpama anjing yang senantiasa menjulurkan lidahnya, tidak memperdulikan walaupun dihalau berkali-kali.
Allah s.w.t mewahyukan ayat-ayat yang menceritakan tentang kehinaan manusia yang menerima ayat-ayat-Nya tetapi masih juga memperturutkan hawa nafsu, supaya cerita yang demikian dapat memberi kesadaran kepada mereka. Jika mereka kembali sadar, mereka akan keluar dari kegelapan nafsu. Berpandukan ayat-ayat Allah s.w.t yang sudah mereka ketahui mereka akan temui jalan yang benar.
Ayat-ayat yang diturunkan Allah s.w.t  memberi pengertian kepada Rasulullah s.a.w bahwa cendikiawan Arab yang menentang baginda s.a.w berbuat demikian bukan kerana tidak dapat melihat kebenaran yang baginda s.a.w bawa, tetapi mereka dikuasai oleh hawa nafsu. Cahaya kebenaran yang menyala dilubuk hati ditutupi oleh kegelapan nafsu. Orang yang telah menerima cahaya kebenaran tetapi mendustakannya itulah yang diberi perumpamaan yang hina oleh Allah s.w.t.
Menurut cerita dari Ibnu Abbas, pada zaman Nabi Musa a.s ada seorang alim bernama Bal’am bin Ba’ura. Allah s.w.t  telah mengurniakan kepada Bal’am rahasia khasiat-khasiat nama-nama Allah Yang Maha Besar. Nabi Musa a.s dan kaum Bani Israil, setelah selamat dari Firaun, sampai mendekati negeri tempat tinggal Bal’am. Raja negeri tersebut ketakutan, takut kalau-kalau negerinya diserang oleh kaum yang telah berhasil menewaskan Firaun. Setelah bermusyawarah dengan penasihat-penasihatnya  Raja tersebut memutuskan untuk meminta pertolongan Bal’am agar Bal’am menggunakan ilmunya untuk mengalahkan Nabi Musa a.s. Bal’am yang pada mulanya enggan berbuat demikian tetapi akhirnya setuju juga setelah isteri kecintaannya menerima sogokan dari Raja. Bal’am dengan kekuatan ilmunya dan kemujaraban doanya telah melancarkan serangan kepada Nabi Musa a.s. Menurut cerita, doa dan perbuatan Bal’am dimakbulkan Allah s.w.t dan ia menjadi sebab kaum Nabi Musa terperangkap di Padang Teh beberapa tahun lamanya. Ketika Nabi Musa a.s berdoa agar kaumnya dilepaskan dari perangkap tersebut, Allah s.w.t memakbulkan doa tersebut dan pada waktu yang sama laknat turun kepada Bal’am.
Sebagian orang menganggap cerita di atas sebagai cerita Israiliat. Rasulullah s.a.w menentukan dasar bahawa cerita ahlul kitab tidak dibenarkan dan tidak didustakan. Cerita tersebut dibawa sekadar menunjukkan sejauh mana kekuatan nafsu menutup pandangan hati sehingga Bal’am sanggup menentang Nabi Musa a.s walaupun dia mengetahui kebenarannya, sebagaimana cendekiawan Arab menentang Rasulullah s.a.w sekalipun hati kecil mereka menerima kebenaran baginda s.a.w.
Menundukkan nafsu bukanlah pekerjaan yang mudah. Seseorang itu perlu kembali kepada hatinya, bukan akalnya. Hati tidak akan berbohong dengan diri sendiri sekalipun akal menutupi kebenaran atas perintah nafsu. Kekuatan hati adalah ikhlas. Maksud ikhlas yang sebenarnya adalah:
Katakanlah: “Sesungguhnya sembahyangku dan ibadatku, hidupku dan matiku, hanyalah untuk Allah Tuhan yang memelihara dan mentadbirkan  sekalian alam”. ( Ayat 162 : Surah al-An’aam )
Dalam ikhlas tidak ada kepentingan diri. Semuanya karena Allah s.w.t. Selagi kepentingan diri tidak ditanam dalam bumi selagi itu ikhlas tidak tumbuh dengan baik. Ia menjadi sempurna apabila wujud diri itu sendiri ditanamkan. Bumi tempat menanamnya adalah bumi yang tersembunyi, jauh daripada perhatian manusia lain. Ia adalah umpama kubur yang tidak tampak.

0 comments: