20120328

Terjemah Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)

BERSAMA MEMURNIKAN AKIDAH DAN AKHLAK MUSLIM

 SYARAH AL-HIKAM Bagian Pertama,Kedua,Ketiga


Mohon Maaf Jika Terjemahan Dibawah Ini Ada yang Salah Maka Mohon Sekiranya Pembaca Dapat Meluruskannya Untuk Itu Saya Ucapkan Terimakasih Dan Semoga Bermanfaat


9: IHWAL MENENTUKAN AMAL
BERBAGAI JENIS AMAL ADALAH KARENA BERBAGAI IHWAL (HAL-HAL)
Hikmat 9 di atas ringkas tetapi padat. Hikmat ini merupakan lanjutan kepada Hikmat 8 yang diuraikan sebelum ini. Hikmat yang ke delapan menjelaskan tentang perhentian di hadapan pintu gerbang sebelum menyentuh makrifat. Hikmat kesembilan ini memberi gambaran tentang makrifat tetapi tidak dikatakan makrifat dan tidak diuraikan secara terus terang sebaliknya diperkatakan sebagai ihwal. Ihwal adalah jamak bagi perkataan hal. Hikmat ini membawa arti hal membentuk keadaan amal. Amal adalah perbuatan atau kelakuan lahiriah dan hal adalah suasana atau kelakuan hati. Amal berkaitan dengan lahiriah dimana hal berkaitan erat dengan batiniah. Karena hati menguasai sekalian anggota maka kelakuan hati berperan dalam hal menentukan bentuk amal yaitu perbuatan lahiriah.
Dalam pandangan tasauf, hal diartikan sebagai pengalaman rohani dalam proses mencapai hakikat dan makrifat. Hal merupakan rasa yang berkaitan dengan hakikat ketuhanan yang melahirkan makrifatullah (pengenalan tentang Allah s.w.t). Oleh itu, tanpa hal tidak ada hakikat dan tidak didapatkan makrifat. Ahli ilmu membina makrifat melalui dalil ilmiah tetapi ahli tasauf  bermakrifat melalui pengalaman tentang hakikat.
Sebelum memperoleh pengalaman hakikat, ahli kerohanian terlebih dahulu memperoleh kasyaf yaitu terbuka keghaiban kepadanya. Ada orang mencari kasyaf yang dapat melihat makhluk ghaib seperti  jin. Dalam proses mencapai hakikat ketuhanan kasyaf yang demikian tidak penting. Kasyaf yang penting adalah yang dapat mengenali tipu daya syaitan yang bersembunyi dalam berbagai bentuk dan suasana dunia ini. Kasyaf yang menerima hakikat sesuatu, walau apapun rupa yang dihadapi, penting bagi pengembara kerohanian. Rasulullah s.a.w sendiri sebagai ahli kasyaf yang paling unggul hanya melihat Jibril a.s dalam rupanya yang asli dua kali sahaja, walaupun pada setiap kali Jibrail a.s menemui Rasulullah s.a.w dengan rupa yang berbeda-beda, Rasulullah s.a.w tetap mengenalinya sebagai Jibril a.s. Kasyaf yang seperti inilah yang diperlukan agar seseorang itu tidak tertipu dengan tipu daya syaitan yang menjelma dalam berbagai rupa yang hebat dan menawan sekalipun, seperti rupa seorang yang kelihatan alim dan warak.
Bila seseorang ahli kerohanian memperoleh kasyaf maka dia telah bersedia untuk menerima kedatangan hal atau zauk yaitu pengalaman kerohanian tentang hakikat ketuhanan. Hal tidak mungkin diperoleh dengan beramal dan menuntut ilmu. Sebelum ini pernah dinyatakan bahawa tidak ada jalan untuk masuk ke dalam gerbang makrifat. Seseorang hanya mampu beramal dan menuntut ilmu untuk sampai kepada pintu gerbangnya. Apabila sampai di situ seseorang hanya menanti karunia Allah s.w.t, semata-mata karunia Allah s.w.t  yang membawa makrifat kepada hamba-hamba-Nya. Karunia Allah s.w.t  yang mengandung makrifat itu dinamakan hal. Allah s.w.t memancarkan Nur-Nya ke dalam hati hamba-Nya dan akibat dari pancaran itu hati akan mendapat sesuatu pengalaman atau terbentuk satu suasana di dalam hati. Misalnya, pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal bahawa Allah Maha Perkasa. Apa yang terbentuk di dalam hati itu tidak dapat digambarkan tetapi kesannya dapat dilihat pada tubuhnya yang menggigil hingga dia jatuh pingsan. Pancaran Nur Ilahi membuat hati mengalami hal atau zauk atau merasakan keperkasaan Allah s.w.t  dan pengalaman ini dinamakan hakikat, yaitu hati mengalami hakikat keperkasaan Allah s.w.t. Pengalaman hati tersebut membuatnya berpengetahuan tentang maksud Allah Maha Perkasa. Jadi, pengalaman yang diperoleh dari zauk hakikat melahirkan pengetahuan tentang Tuhan. Pengetahuan itu dinamakan makrifat. Orang yang berkenaan dikatakan bermakrifat terhadap keperkasaan Allah s.w.t. Oleh itu untuk mencapai makrifat seseorang itu haruslah mengalami hakikat. Inilah jenis makrifat yang tertinggi. Makrifat tanpa pengalaman hati adalah makrifat secara ilmu. Makrifat secara ilmu boleh didapati dengan belajar, sementara secara zauk didapati tanpa belajar. Ahli tasauf  tidak berhenti hingga makrifat secara ilmu malah mereka mempersiapkan hati mereka agar sesuai menerima kedatangan makrifat secara murni.
Ada orang yang memperoleh hal sekali saja dan dikuasai oleh hal dalam tempuh yang tertentu saja dan ada juga yang  kekal di dalam hal. Hal yang berterusan atau kekal dinamakan wisal yaitu penyerapan hal secara berterusan, kekal atau baqa. Orang yang mencapai wisal akan terus hidup dengan cara hal yang berkenaan. Hal-hal (ihwal) dan wisal boleh dibahagikan kepada lima jenis:
1 : Abid:
Abid adalah orang yang dikuasai oleh hal atau keadaan yang membuat dia sangat merasakan bahawa dirinya hanyalah seorang hamba yang tidak memiliki apa-apa dan tidak mempunyai sedikitpun daya dan upaya untuk melakukan sesuatu. Kekuatan, keupayaan, bakat-bakat dan apapun yang ada padanya adalah  daya dan upaya dari Allah s.w.t. Semuanya itu adalah karunia-Nya semata-mata. Allah s.w.t  sebagai Pemilik yang sebenarnya, apabila Dia memberi, maka Dia berhak mengambil kembali pada masa/waktu yang Dia kehendaki. Seorang abid benar-benar bersandar kepada Allah s.w.t hinggakan sekiranya dia melepaskan sandaran itu dia akan jatuh, tidak berdaya, tidak dapat bergerak, karena dia benar-benar melihat dirinya kehilangan apa yang datangnya dari Allah s.w.t. Hal atau suasana  yang menguasai hati abid itu akan melahirkan amal atau kelakuan sangat kuat beribadat, tidak memperdulikan dunia dan isinya, tidak mengambil bagian dalam urusan orang lain, sangat takut berjauhan dari Allah s.w.t  dan gemar menyendiri. Dia merasakan apapun selain Allah s.w.t  akan menjauhkan dirinya daripada Allah s.w.t.
2 : Asyikin:
Asyikin ialah orang yang mendapat asyik dengan sifat Keindahan Allah s.w.t. Rupa, bentuk, warna dan ukuran tidak menjadi soal baginya karena apapun yang dilihatnya menjadi cermin yang dia lihat adalah Keindahan serta Keelokan Allah s.w.t  di dalamnya. Amal atau kelakuan asyikin ialah gemar merenung alam maya dan memuji Keindahan Allah s.w.t  pada apapun yang disaksikannya. Dia sering duduk menikmati keindahan alam beberapa jam tanpa merasa jemu. Kilauan ombak dan titikan hujan memukau pandangan hatinya. Semua yang kelihatan adalah warna Keindahan dan Keelokan Allah s.w.t.  Orang yang menjadi asyikin tidak memperdulikan lagi adab dan peraturan masyarakat. Kesadarannya bukan lagi pada alam ini. Dia mempunyai alamnya sendiri yang didalamnya hanyalah Keindahan Allah s.w.t.
3 : Muttakhaliq:
Muttakhaliq adalah orang yang mencapai yang Haq dan bertukar sifatnya. Hatinya dikuasai oleh suasana  Qurbi Faraidh atau Qurbi Nawafil. Dalam Qurbi Faraidh, muttakhaliq merasakan dirinya adalah alat dan Allah s.w.t menjadi Pengguna alat. Dia melihat perbuatan atau kelakuan dirinya terjadi tanpa dia merancang dan campur tangan, bahkan dia tidak mampu mengubah apa yang akan terjadi pada kelakuan dan perbuatannya. Dia menjadi orang yang berpisah dari dirinya sendiri. Dia melihat dirinya melakukan sesuatu  perbuatan seperti dia melihat orang lain yang melakukannya, yang dia tidak berdaya mengawal atau mempengaruhinya. Hal Qurbi Faraidh adalah dia melihat bahawa Allah s.w.t  melakukan apa yang Dia kehendaki. Perbuatan dia sendiri adalah gerakan Allah s.w.t, dan diamnya juga adalah gerakan Allah s.w.t. Orang ini tidak mempunyai kehendak sendiri, tidak ada ikhtiar dan tadbir. Apa yang mengenai dirinya, seperti perkataan dan perbuatan, berlaku secara spontan. Kelakuan atau amal Qurbi Faraidh ialah bercampur-campur diantara logik dengan tidak logik, mengikut adat dengan merombak adat, kelakuan alim dengan jahil. Dalam banyak perkara penjelasan yang dapat katakannya ialah, “Tidak tahu! Allah s.w.t berbuat apa yang Dia kehendaki”.
Dalam suasana Qurbi Nawafil pula muttakhaliq melihat dengan mata hatinya sifat-sifat Allah s.w.t  yang menguasai bakat dan keupayaan pada seluruh anggota badannya dan dia menjadi pelaku atau pengguna sifat-sifat tersebut, yaitu dia menjadi khalifah dirinya sendiri. Hal Qurbi Nawafil ialah berbuat dengan izin Allah s.w.t karena Allah s.w.t mengaruniakan kepadanya kekuatan untuk berbuat sesuatu. Contoh Qurbi Nawafil adalah kelakuan Nabi Isa a.s yang membentuk rupa burung dari tanah liat lalu menyuruh burung itu terbang dengan izin Allah s.w.t, juga kelakuan beliau a.s menyeru orang mati supaya bangkit dari kuburnya. Nabi Isa a.s melihat sifat-sifat Allah s.w.t yang diizinkan menjadi bakat dan kemampuan beliau a.s, sebab itu beliau a.s tidak ragu-ragu untuk menggunakan bakat tersebut menjadikan burung dan menghidupkan orang mati dengan izin Allah s.w.t.
4 : Muwahhid:
Muwahhid fana dalam zat, zatnya lenyap dan Zat Mutlak yang menguasainya. Hal bagi muwahhid ialah dirinya tidak ada, yang ada hanya Allah s.w.t. Orang ini telah putus hubungan dengan kesadaran basyariah dan sekalian maujud. Kelakuan atau amalnya tidak lagi seperti manusia biasa karena dia telah terlepas dari sifat-sifat kemanusiaan dan kemakhlukan. Misalkan dia bernama Abdullah, dan jika ditanya kepadanya di manakah Abdullah, maka dia akan menjawab Abdullah tidak ada, yang ada hanyalah Allah! Dia benar-benar telah lenyap dari ke‘Abdullah-an’ dan benar-benar dikuasai oleh ke‘Allah-an’. Ketika dia dikuasai oleh hal dia terlepas daripada beban hukum syara. Dia mungkin menyerukan, “Akulah Allah! Maha Suci Aku! Sembahlah Aku!” Dia telah fana dari ‘aku’ dirinya dan dikuasai oleh kewujudan ‘Aku Hakiki’. Walau bagaimana pun sikap dan kelakuannya dia tetap dalam keridaan Allah s.w.t. Apabila dia tidak dikuasai oleh hal, kesedarannya kembali dan dia menjadi ahli syariat yang taat. Perlu diketahui bahwa hal tidak boleh dibuat-buat dan orang yang dikuasai oleh hal tidak berupaya menahannya. Ahli hal tenggelam dalam penghayatan Allah s.w.t. Bila dia menyerukan , “Akulah Allah!” bukan bermakna dia mengaku telah menjadi Tuhan, tetapi dirinya telah fana, apa yang terucap melalui lidahnya sebenarnya adalah dari Allah s.w.t.  Allah s.w.t yang mengatakan Dia adalah Tuhan dengan menggunakan lidah muwahhid yang sedang fana itu.
Berbeda pula golongan mulhid. Si mulhid tidak dikuasai oleh hal, tidak ada zauk, tetapi berkelakuan dan bercakap seperti orang yang di dalam zauk. Orang ini dikuasai oleh ilmu tentang hakikat bukan mengalami hakikat secara zauk. Si mulhid membuang syariat serta beriman berdasarkan ilmu semata-mata. Dia berpuas hati berbicara tentang iman dan tauhid tanpa beramal menurut tuntutan syariat. Orang ini berbicara sebagai Tuhan sedangkan dia di dalam kesadaran kemanusiaan, masih bergulat dengan keinginan hawa nafsu. Orang-orang sufi bersepakat mengatakan bahwa siapapun yang mengatakan, “Ana al-Haq!” sedangkan dia masih sadar tentang dirinya maka orang tersebut adalah sesat dan kufur!
5 :  Mutahaqqiq:
Mutahaqqiq ialah orang yang setelah fana dalam zat turun kembali kepada kesadaran sifat, seperti yang terjadi pada nabi-nabi dan wali-wali demi melaksanakan amanat sebagai khalifah Allah di atas muka bumi dan kehidupan dunia yang wajib diuruskan. Dalam kesadaran zat seseorang tidak keluar  dari khalwatnya dengan Allah s.w.t  dan tidak peduli tentang keruntuhan rumah tangga dan kehancuran dunia seluruhnya. Sebab itu orang yang demikian tidak dapat dijadikan pemimpin. Dia harus turun pada kesedaran sifat barulah dia boleh memimpin orang lain. Orang yang telah mengalami kefanaan dalam zat kemudian disadarkan dalam sifat adalah benar-benar pemimpin yang dilantik oleh Allah s.w.t menjadi Khalifah-Nya untuk memakmurkan makhluk Allah s.w.t dan memimpin umat manusia menuju jalan yang diridhai Allah s.w.t. Orang inilah yang menjadi ahli makrifat yang sejati, ahli hakikat yang sejati, ahli tarekat   yang sejati dan ahli syariat yang sejati, berkumpul padanya dalam satu kesatuan yang menjadikannya Insan Rabbani. Insan Rabbani peringkat tertinggi ialah para nabi-nabi dan Allah s.w.t  karuniakan kepada mereka maksum, sementara yang tidak menjadi nabi dilantik sebagai wali-Nya yang diberi perlindungan dan pemeliharaan.
Ihwal (hal-hal) yang menguasai hati nurani berbeda-beda, dengan itu akan mencetuskan prilaku amal yang berbeda-beda. Ihwal mesti difahami dengan sebenar-benarnya oleh orang yang memasuki latihan tarekat kerohanian, supaya dia mengetahui, dalam amal yang bagaimanakah dia mendapat kedamaian dan mencapai maksud dan tujuan, apakah dengan sembahyang, zikir atau puasa. Dia mesti berpegang sungguh-sungguh kepada amal yang dicetuskan oleh hal tadi, agar dia cepat dan selamat sampai ke puncak.

0 comments: