20120416

Terjemah Syarah Al-Hikam (Syaikh Ibnu Athoillah)

BERSAMA MEMURNIKAN AKIDAH DAN AKHLAK MUSLIM

 SYARAH AL-HIKAM Bagian Pertama,Kedua,Ketiga

Mohon Maaf Jika Terjemahan Dibawah Ini Ada yang Salah Maka Mohon Sekiranya Pembaca Dapat Meluruskannya Untuk Itu Saya Ucapkan Terimakasih Dan Semoga Bermanfaat

87: Orang Yang Mengenal Allah s.w.t  88: Harapan Dan Angan-angan  89: Tujuan Orang Arifbillah  90-92: Qabadh Dan Basath 93 & 94: Hikmat Pada Pemberian Dan Penolakan 95: Alam Pada Zahirnya Dan Batinnya 96: Kemuliaan Yang kekal Abadi 97: Perjalanan Yang Hakiki  98: Penolakan Allah s.w.t Lebih Baik Daripada Pemberian Makhluk 99-101: Amal, Taat Dan Balasan Allah s.w.t 102: Allah s.w.t Ditaati Karena Sifat-sifat Ketuhanan-Nya 103 & 104: Pemberian danPenolakan memperkenalkan Allah s.w.t 105 & 106: Jalan KepadaAllah s.w.t 107 & 108: Nikmat Penciptaan Dan NikmatSusulan 109 & 110: Hamba Berhajat Kepada Tuhan 111: Uns (Jinak Hati Dengan Allah s.w.t) 112: Keizinan Meminta TandaAkan Mendapat Karunia 113: Orang Arif Berhajat Kepada Allahs.w.t 114: Nur Sifat Allah s.w.t Menerangi Rahasia hati 115 & 116: Takdir Adalah Ujian Allah s.w.t 117: Hawa Nafsu Dan Kesamaran jalan 118: Sifat Kewalian Ditutup Daripada Pandangan Umum 119: Perhatikan Kewajiban Bukan Permintaan 120: Zahir Bersyariat Dan Batin Beriman 121: Kekeramatan Bukan Jaminan Kesempurnaan 122: Pelihara Wirid Selama Ada hayat 123: Warid Dan Nur Ilahi 124: Sikap Orang Lalai Dan Orang Berakal 125: Abid Dan Zahid Yang Belum Mencapai Keteguhan Hati 126 & 127: Kerinduan Untuk Melihat Allah s.w.t



 89: Tujuan Orang Arifbillah
MAKSUD DAN TUJUAN ORANG ARIFBILLAH ADALAH BENAR DALAM UBUDIYAH (KEHAMBAAN) DAN MELAKSANAKAN HAK-HAK RUBUBIAH (KETUHANAN).
Insan adalah ciptaan Allah s.w.t  yang paling istimewa karena padanya digabungkan aspek zahir dengan aspek batin. Aspek zahirnya menyerupai alam semesta dan aspek batinnya berkaitan dengan hal-hal ketuhanan. Hal-hal ketuhanan yang menyinari batin manusia itulah yang menyebabkan sekalian malaikat diperintahkan sujud kepada Adam a.s, bapak dari sekalian insan.
(Ingatkanlah peristiwa) tatkala Tuhanmu berfirman kepada malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menciptakan manusia – Adam - dari tanah; Kemudian apabila Aku sempurnakan kejadiannya dan Aku tiupkan padanya roh dari (ciptaan)-Ku, maka hendaklah kamu sujud kepadanya”. ( Ayat 71 & 72 : Surah Saad )

Hati nurani atau rohani manusia ada perkaitan dengan roh urusan Allah s.w.t. Ini yang menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling mulia, sehingga malaikat diperintahkan sujud kepada manusia. Roh urusan Allah s.w.t menjadi nur yang memberi petunjuk kepada manusia. Hati nurani yang diterangi oleh nur ini akan terpimpin kepada jalan Allah s.w.t. Roh urusan Allah s.w.t itulah yang memungkinkan segala urusan sampai kepada Allah s.w.t, termasuklah ibadat, amalan, doa, rayuan dan apa saja yang manusia lakukan. Orang arifbillah menyadari dan menghayati hakikat ini. Kesadaran terhadap roh urusan Allah s.w.t  itu membuat mereka menjadikan benar dalam ubudiyah (kehambaan) sebagai tujuan hidup mereka dan pada waktu yang sama juga mereka menunaikan hak ketuhanan. Kehambaan dinyatakan melalui syariat:
 
Dan (ingatlah) Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan untuk mereka menyembah dan beribadat-Ku. ( Ayat 56 : Surah adz-Dzaariyaat )

Hak ketuhanan Allah s.w.t  juga dinyatakan melalui pandangan hakikat:
 
“Karena sesungguhnya aku telah berserah diri kepada Allah, Tuhanku dan Tuhan kamu! Tiadalah sesuatupun dari makhluk-makhluk yang bergerak di muka bumi melainkan Allah jualah yang menguasainya. Sesungguhnya Tuhanku tetap di atas jalan yang lurus”. ( Ayat 56 : Surah Hud )
 
Maka bukanlah kamu yang membunuh mereka, akan tetapi Allah jualah yang menyebabkan pembunuhan mereka. Dan bukanlah engkau (wahai Muhammad) yang melempar ketika engkau melempar, akan tetapi Allah jualah yang melempar (untuk membinasakan orang-orang kafir). ( Ayat 17 : Surah al-Anfaal )

Jalan syariat memperbaiki amal dan jalan hakikat pula menyaksikan Rububiyah, tidak luput dari Hadrat Allah s.w.t dalam segala perkara dan pada setiap masa. Bila dua jalan tersebut berpadu sebagai satu jalan, lahirlah amal zahir dan amal batin yang tidak bercerai berai. Orang arifbillah bersungguh-sungguh mengerjakan tuntutan syariat dan pada waktu yang sama beriman serta bertawakal sambil menyaksikan hakikat ketuhanan (Rububiyah) menguasai segala sesuatu.

Tidak ada yang hidup, yang berkuasa, yang berkehendak, yang mengetahui, yang mendengar, yang melihat dan yang berkata-kata melainkan semuanya di bawah urusan Rububiyah. Apa saja yang berada di dalam genggaman  atau dijerat oleh Rububiyah itu dinamakan ubudiyah. Rububiyah adalah kewujudan yang memerintah dan ubudiyah pula kewujudan yang diperintah.

Hati yang suci bersih, apabila disinari oleh Nur Ilahi, berpeluang mengembara secara kerohanian dari ubudiyah kepada Rububiyah untuk memperoleh makrifat-Nya. Pengembaraan kerohanian berawal dari alam kebendaan (nasut), naik ke alam lakuan (malakut) dan seterusnya ke alam sifat (Jabarut). Kemudian dia melalui asma’ (nama-nama Allah s.w.t) dan hakikat segala sesuatu. Seterusnya dia mencapai fanafillah (hilang lenyap kesedaran diri di bawah penguasaan Allah s.w.t). Setelah melepasi daerah fana dia masuk kepada daerah baqabillah (kesedaran kekal bersama-sama Allah s.w.t). Kemudian dia turun kepada kesadaran sifat (Jabarut). Di dalam daerah ini dia mengenali hakikat dirinya dan Hakikat Insan (manusia), yaitu suasana Rububiyah yang menguasai sekalian manusia dan juga dirinya. Bila dia turun lagi, dia kembali kepada alam insan semula, memikul amanah sebagai khalifah Allah yang bertanggungjawab menjalankan perintah Allah s.w.t  di atas muka bumi ini. Salik yang telah menyempurnakan pengembaraannya dan mendapat amanah kekhalifahan itulah yang dinamakan arifbillah. Martabat ini dicapai dengan menghapuskan segala kepentingan diri sendiri ke dalam kefanaan Allah s.w.t, sehingga mencapai makom baqa.

Orang arifbillah mengalami dan mengenali suasana ubudiyah dan Rububiyah. Dia telah berhasil menyatukan syariat dan hakikat. Taat kepada Allah s.w.t dan Rasul-Nya dengan mematuhi perintah-Nya, menjauhi larangan-Nya dan berjalan sesuai dengan Sunah Rasulullah s.a.w, adalah tujuan dan maksud orang arifbillah. Mereka kuat melakukan amal ibadah tetapi tidak melihat kepada amal itu. Segala sesuatu dikembalikan kepada Allah s.w.t. Allah s.w.t yang memberi petunjuk dan Dia juga yang memberi kekuatan untuk melakukan ketaatan kepada-Nya. Tidak ada yang berlaku melainkan di bawah kuasa Kudrat dan Iradat Allah s.w.t jua.

Kearifan tidak berpisah dengan ubudiyah. Rasulullah s.a.w merupakan manusia yang paling arif dan baginda s.a.w  jugalah yang menjadi manusia yang paling kuat berbuat ubudiyah di antara sekalian makhluk.

0 comments: