20130108

SIGN IN FACEBOOK FOR DEPRESSION

Ada cerita, seorang akhwat menikah dengan seorang ikhwan, bermula dari kenal lewat facebook. Ngakunya salafy, ngaji sama ustadz itu dan ini. Eeh, ternyata hizbi dah beristri. Mau gimana lagi, bubur ga bisa jadi nasi.

Ada juga seorang akhwat cerita, “ummu ahmad, hati-hati loh ada ikhwan yang suka pake fb istrinya, ngakunya akhwat padahal ikhwan. Lagi cari-cari istri kedua.” Herannya, sang istri tahu kelakuan suaminya dan amin-amin saja. Ga tahu akhirnya dapat ‘mangsa’ apa tidak. Syukurlah aku ga kenal keduanya.

Ada juga cerita, entah gosip entah apa, “eh, rumah tangga ummu x dan abu x hampir berantakan lho, gara-gara facebook”. Kalau yang ini mungkin banyak kasus serupa.

Ada juga cerita nyata lainnya, seorang ibu mengaku bebas akses facebook anaknya, untuk mengontrol katanya, dan agar si ibu tetap bisa menjadi teman bagi anaknya. Bahkan aku pernah dilihatin facebook anaknya itu. Suatu hari si ibu beramai-ramai dengan ibu-ibu lainnya bergaya dan berfoto-foto ria, “mau masukin facebook, aah…”, begitu teriaknya. Ternyata si ibu keranjingan facebook seperti anaknya.

Ada juga seorang anak ummahat, mungkin usianya sekitar usia SMP/SMU. Di tengah dauroh, sementara ibunya mendengar kajian anaknya nyempil di belakang buka tabletnya, nge-facebook. Katanya… anak itu memang selalu update gadget terbaru.

Ada juga cerita, foto seorang ikhwan terlihat sedang mijit-mijit tangan seorang wanita (cantik tak berjilbab pula), profesinya memang tak jauh dari dunia pengobatan herbal. Fotonya diupload di facebook, siapapun bisa lihat. Sampai-sampai jadi bahan guyonan yang ga lucu sama sekali. Aku hanya bisa berdesah, “kasian istrinya yang ustadzah itu, dia tak tahu kelakuan suaminya yang tampak di luar dunia nyata, semoga dia memaafkan suaminya”. Seyogyanya, suami benar-benar menjaga dirinya untuk istrinya kemudian istrinya pun akan menjaga dirinya untuk suaminya.

Ada juga cerita, bahwa telah banyak akhwat yang dulu bercadar sekarang lepas cadarnya, kemudian foto-fotonya mejeng di facebook. Malah ada, akhwat yang dulunya ngaji, sekarang lepas sudah hijab syar’inya, berganti baju kecil kerudung kecil bahkan rok dan gamisnya diganti celana panjang. Sebagiannya terlihat di foto facebook atau blognya, foto tanpa rasa bersalah.

Ada juga cerita, dulu…akhawat tak pernah mau difoto-foto, anti pokoknya! Eh, sekarang pada pajang fotonya di facebook juga, foto anak-anaknya, juga keluarganya. Dulu, malu berpapasan dengan ikhwan takut dikenali wajahnya, tapi sekarang ikhwan bisa gratis melihat penampilannya.

Ada juga cerita, seorang ummahat menegur seorang temannya yaitu akhwat bercadar yang sedang menemani suaminya kuliah di luar negeri karena memajang foto tanpa cadar di facebooknya. Alasannya, di luar negeri sana ga dibolehin pake cadar. Ummahat itu pun menjawab, “ya sudah balik saja sini ke indonesia, di sini bebas bercadar”.

Dan cerita terakhir, ada orang awam pernah bertanya, “ummi…ummi… ummahat-ummahat juga juga suka poto-poto di pesbuk ya? Wah, ternyata sama juga ya kayak kita-kita, hahaha…”, seolah mereka tertawa kegirangan karena orang-orang yang mereka anggap ‘alim dan sholehah ternyata ga beda jauh dengan mereka. Apa kata dunia, ahlu sunnah makin tergilas. Kenapa orang-orang selalu membanding-bandingkan dengan orang-orang seperti kita, pikirku, mereka anggap orang-orang seperti kita selalu benar, di sisi lain menjustice kita sok suci. Betapa facebook telah banyak merubah kita, para muslimah.

Hari ini, kita banyak dapati, orang tak malu lagi berbuat dosa dan maksiat di depan publik. Padahal sewajarnya, orang yang berbuat maksiat akan malu ketahuan teman-temannya. Kalau diingatkan, jawabnya, “udah lah, dulu itu dulu! Waktu kita masih idealis. Jangan muna deh, sekarang susah lagi menghindari hal-hal seperti itu”, dan sekian banyak manfaat disebutkan sebagai alasannya. “kita bisa saja sekarang ngomong begini, bisa jadi besok berbalik ke kamu sendiri. Kita bisa berubah!”. Na’udzubillahi min dzalik…

Ooh, mungkin dia dulu menganggap cadar adalah wajib, tapi sekarang berubah menjadi cadar adalah sunnah. Atau mungikn dia menganggap sunnah, dulu boleh pakai sekarang boleh lepas. Mana tahu, ya kan?

Ini realita di sekitar kita, bahkan sangat dekat dengan kita. Bahkan, mengancam kita… Sekarang kita selamat, tapi siapa yang tahu kalau kita bisa saja terperosok pada kesalahan yang sama. Na’udzubillahi min dzalika. Sepatutnya kita berdoa agar terhindar darinya.

Dalam sebuah catatan kajian kutemukan tulisan ini, sayang hanya sebatas coretan yang tak lengkap:

Hadits Nawas bin Sam’an… Nawas berkata, aku bertanya pada Nabi tentang makna al bir dan al itsm. Lalu beliau menjawab, al bir adalah khusnul khuluq, sedangkan al itsm adalah apa yang meragukan dalam dirimu, yang membuat resah hatimu, dan engkau tidak suka apabila orang-orang mengetahui hal itu. Diriwayatkan oleh muslim

Menjelaskan hadits ini, Syaikh Ibnu Utsaimin mengatakan, yang dimaksud dengan dosa adalah apa yang meragukan dalam hatimu, artinya adalah apa yang hatimu tidak tenang atau tentram, dan kamu tidak suka orang-orang tahu akan hal itu. Keadaan ini khusus bagi orang mu’min ketika melakukan perbuatan yang melanggar. Adapun orang fasiq, dosa yang mereka lakukan tidak membuat resah dan gelisah, dan juga tidak malu diketahui orang lain.

Disebutkan dalam Al Quran surat Faathir ayat 8 yang artinya

“Maka apakah orang yang dijadikan (syaitan) menganggap baik pekerjaannya yang buruk lalu dia meyakini pekerjaan itu baik, (sama dengan orang yang tidak ditipu oleh syaitan)? Maka sesungguhnya Allah menyesatkan siapa yang dikehendaki-Nya dan menunjuki siapa yang dikehendaki-Nya; maka janganlah dirimu binasa karena kesedihan terhadap mereka. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui apa yang mereka perbuat”.

Semoga kita tidak sebagaimana orang-orang fasiq ketika berbuat kemaksiatan….

***

Akhirnya, kututup dengan sebuah puisi:

***

Dulu, dia seorang akhwat bercadar,

Ketemu ikhwan langsung menghindar,

Diajak foto-foto memilih bubar,

Sekarang dia tak sadar,

Tiap hari upload foto dan gambar,

..."Ah kamu dasar! Gitu saja dianggap masalah besar.."

Ga nyangka aku dikatain dia kasar,

Ah ya sudah biar....yar...yar...

Aku mesti sabar...bar...bar...

Aku pikir dia hanya berkelakar...kar...kar...

Emosi sesaat sebentar juga pudar….dar...dar...

xixixixixi...

kwkwkwkwk...

hiks...

prikitiwwww....

ngek...

gkgkgkgk.....

preeeet....
 
 

0 comments: