20130109

~«. Ibu…Maafkanlah Anakmu »~

Hari telah larut malam. Suasana sangat hening, dan semua insan telah lelap dalam tidurnya. Yang terdengar hanyalah suara binatang malam yang bersahut-sahutan. Tiba-tiba keheningan malam itu terpecahkan oleh suara tangisan seorang bayi dari sebuah rumah. Sang ibu yang tengah terlelap dalam tidurnya pun bergegas bangun dan menghampiri buah hatinya.

Rasa kantuk yang menggelayuti tidak dihiraukannya.“Oh.. anak ibu pipis ya?” ibu itu berkata sendiri sambil mengganti pakaian bayinya yang telah basah.Setelah itu sang ibu pun mendekap anaknya agar berhenti menangis dan tertidur kembali. Tak lama kemudian si kecil pun tertidur kembali. Sedangkan ibu tadi, meskipun telah berusaha untuk tidur, Namun matanya takmampu lagi dipejamkan hingga fajar pun tiba.

Pengalaman seperti ini kerap sekali dialami oleh seorang ibu yang mempunyai momongan kecil, dan hampir semua ibu pernah mengalaminya.Dari sini cobalah kita kembali merenungkan, betapa besarnya penderitaan seorang ibu.

Bagaimana beratnya beliau ketika mengandung anaknya selama berbulan-bulan. Betapa sakitnya beliau ketika melahirkan anaknya, dan betapa berat dan susahnya beliau ketika menyusui. Ia jaga dan pelihara buah hatinya lebih dari menjaga kesehatan dan keselamatan dirinya sendiri.

Ketika anaknya lapar, ia menyuapinya dengan penuh kesabaran dan kasih sayang. Ketika malam telah larut dan dingin, sang ibu pun meninabobokan si kecil dalam buaiannya. Dengan penuh kasih kelembutan ia menimangnya.

Allah Ta’ala berfirman:

“ibunya mengandungnya dalam keadaan susah yang bertambah-tambah, dan melahirkannya dengan susah payah (pula)” (Al Ahqaaf: 15)

Tangan sang ibu telah banyak memberi arti dalam tiap lembar kehidupan anaknya. Saat sang buah hati ketakutan dalam gelapnya malam, sang ibu pun mendekapnya dengan penuh perlindungan dan kasih sayang. Dibisikannya “kalimat-kalimat tauhid” yang akan tetap terukir indah dalam hatinya,

“Jangan engkau takut wahai anakku, bukan gelapnya malam yang pantas engkau takuti akan tetapi Allah Tuhan sekalian alam. Nah sekarang hilangkanlah ketakutan itu karena Allah Maha Melihatmu dan pasti akan melindungimu”. Bisikan-bisikan itulah yang telah memberi ketenangan dan menumbuhkan keberanian pada jiwa anaknya.

Lihatlah betapa besarnya jasa ibu kepada anaknya.Tetapi kini setelah kita dewasa dan meraih apa yang kita citakan, kita balas dengan perbuatan yang sebaliknya. Seolah kita yang telah memberikan jasa dan kebaikan kepadanya. Kita perlakukan ibu bagaikan seorang pembantu dan tetangga jauh. Bahkan kadang kita menyalahkan dan bersikap kasar dengan membentaknya.Apakah pantas kita berbuat seperti itu?

Na'udzubillahi min daalik...

Pantaskah kita mengabaikan dan menyiakan segala kasih sayang dan penderitaan ibu kita selama ini? Beliau hidup susah di akhir hayatnya tanpa ada yang memelihara dan menyantuninya. Tegakah kita membiarkannya hidup bersama orang lain karena kita enggan dan malu untuk merawatnya?

Wahai saudaraku, janganlah kita hanya bisa menangis saat teringat akan ibu kita. 
Janganlah menunggu ibumu tiada untuk mengingat jasa jasanya. 
Tunjukkanlah wujud bakti kita kepada mereka.  
Ingatlah, tidak ada kata terlambat untuk memulainya!

Ibuku mengajariku melukis
hingga bisa kuwarnai hari

Ibuku mengajariku berlari
hingga terus kukejar mimpi

Ibuku mengajariku berdoa
berharap selalu ingat dan tak pernah lupa

Ibuku mengajariku tersenyum
mengingatkanku untuk tak selalu sendiri

Ibuku mengajariku diam
membangunku dalam kebijaksanaan

Ibuku masih terus mengajariku
tentang dunia yang tak kukenal

Untukku….ibuku menatap siang dan malam
Tapi beliau lupa mengajariku untuk mengingat jasa-jasany 
 
Aku Mencintaimu ibu.....
Terimakasih atas jasa-jasamu...
Apa jadinya aku bila tanpamu ibu....
 
Ya allah kasihanilah kedua orang tua kami seperti beliau mengasihi kami ,,aamiin

♥ ♥ IBUUU♥ ♥
 
 

0 comments: